Naruto mungkin masih jadi salah satu manga yang paling digemari--bahkan-- diseluruh dunia. (manga lho.. bukan komik) Saking serunya dan selalu bikin penasaran.. manga hard copy cetakan elexmedia kayaknya cuma jadi pasar buat anak kecil. Kelas remaja (pelajar sma, mahasiswa bahkan orang dewasa) yang juga suka dan notabene udah melek teknologi internet, saya percaya lebih suka browsing di beberapa site manga scanlation.. update-nya ngikutin terbitan langsung dari shounen magz dari japon-nya.. biasanya diupdate setiap minggunya, jadi rasa penasaran lebih cepat terobati dibanding nunggu berbulan-bulan manga hard copy-nya.
Nah, mulai chapter 487 sampe seterusnya, ahmed bakal ngasih update chapter file tiap minggunya.. lebih cepet dari onemanga.com mudah-mudahan istiqamah.. hehe
Berapa banyak orang yang berani meninggalkan zona nyamannya –dan mengikuti kata hati—untuk mengejar mimpinya?
Novel sederhana tentang bagaimana Santiago, anak laki-laki penggembala domba berusaha menjawab pertanyaan itu dengan segala inspirasi dan hikmahnya. Carita berawal ketika Santiago berulang kali mendapat mimpi yang sama tentang harta karun. Dalam mimpinya, Ia dituntun oleh seorang anak kecil untuk menemukan harta itu diantara piramid-piramid. Hanya saja, setiap kali Santiago hampir mencapai tempat persis harta karun berada, ia selalu terbangun.
Awalnya Santiago tidak pernah ambil pusing dengan mimpinya itu. Ia sudah merasa cukup nyaan dengan menggembalakan domba-dombanya dan menjelajahi berbagai tempat baru. Hingga suatu saat Ia bertemu dengan peramal Gypsi yang mentafsirkan mimpinya itu, bahwa Ia harus mencari harta itu. Dorongan mencari harta dalam mimpinya itu semakin deras ketika di sebuah kota Ia bertemu dengan orang tua yang mengaku sebagai Raja Salem. Orang tua ini berperan sebagai penasihat bagi orang-orang yang hampir melepaskan mimpinya dan mewujudkan takdirnya.
“Takdir adalah hal yang harus kita wujudkan sendiri”, nasihat orangtua itu pada Santiago. Dalam percakapannya dengan Santiago, orangtua itu juga menjelaskan bahwa: saat masih muda, manusia tidak pernah takut bermimpi, segalanya sangat mungkin tercapai. Namun, seiring dengan waktu, ada daya misterius yang membuat mereka berfikir mustahil impian mereka terwujud.
Sejak kacil Santiago menyukai petualangan dan hal-hal baru. Pada awalnya, orangtuanya menginginkan Santiago menjadi Pastor, namun, hatinya berkata bahwa petualangan lebih disukainya. Ia lebih suka bepergian, melihat kastil-kastil di kota dan negeri asing. Akhirnya Santiago memilih menjadi penggembala domba. Menjelajahi padang-padang rumput, singgah dari satu kota ke kota lain walaupun masih berada di negeri sendiri dan mengalami berbagai peristiwa serta hikmah yang Ia dapat dalam perjalanannya.
“Aku tidak bisa menemukan Tuhan di Gereja”. Pikirnya.
Pada titik inilah Santiago berada menurut Oang tua dari Salem. Ya. Anak lelaki ini merasa sudah cukup dengan memiliki domba-dombanya itu sendiri. Ia mulai melupakan mimpinya untuk berpetualang ke negeri asing dan mulai merasa tak mungkin mewujudkan mimpinya mendapat harta karun. Orang tua itu kemudian menunjukkan Santiago seorang Tukang Roti di seberang jalan.
“Ketika masih kanak-kanak, orang tiu juga ingin berkelana. Tapi Ia memutuskan pertama-tama akan membuka toko roti, lalu mengumpulkan uang. Nanti, kalau sudah tua, dia ingin bepergian selama sebulan ke Afrika. Dia tidak menyadari, orang bisa melaksanakan impiannya kapan saja.” Pada akhirnya tukang roti itu tak pernah bisa mewujudkan impiannya dan terkungkung dengan keadaannya saat ini.
Santiago mulai bimbang. Pada titik inilah kesempatan datang untuk mewujudkan mimpinya mendapatkan harta karun dan berpetualang ke piramid-piramid. Namun untuk meraih itu, artinya ia harus mengambil resiko menjual domba-dombanya yang telah menjadi kebanggaan dan sumber kehidupan selama ini. Angin laventer-lah yang kemudian menginspirasinya. Tentu saja Santiago bisa bebas, sebebas angin. Tak ada yang dapat menahannya kecuali dirinya sendiri. Ya. Akhirnya Anak Lelaki ini memutuskan untuk mencari harta dalam mimpimya itu.
Maka dimulailah petualangan Santiago. Meninggalkan tanah Andalusia menuju Afrika dimana Piramid dalam mimpinya berada. Berbagai peristiwa Ia lalui hingga anak lelaki ini sedikit banyak mengerti akan kehidupan yang selama ini hanya ia jalani—tanpa mengerti apa maksud yang terkandung di dalam setiap peristiwa.
Awal perjalanannya ditandai dengan hilangnya seluruh uang hasil penjualan domba untuk ongkos perjalanan. Namun, Santiago tetap yakin berjalan. Perjalanan Panjang dari mulai membantu pedagang Kristal hingga Ia mendapat kembali uang (bahkan lebih besar) untuk melanjutkan perjalanan, mengikuti rombongan caravan melintasi gurun, perang antar suku di oasis, bertemu dengan Fatima –gadis yang kemudian sangat dicintainya, hingga Ia bertemu dengan sang Alkemis.
Pertemuannya dengan Sang Alkemis-lah yang menjadi puncak dari perjalanan Santiago. Bahkan jika saja harta karun dalam mimpinya tak berhasil dia temukan, maka itu tak akan menjadi penyesalan baginya. Karena sesungguhnya telah banyak yang anak lelaki ini dapatkan sepanjang perjalanannya. Hatinya dengan bangga ingin bercerita tentang kisah seorang anak gembala yang pergi meninggalkan domba-dombanya untuk mengejar mimpinya. Hatinya juga menceritkan tentang takdir, dan orang-orang yang pergi berkelana mencari negeri-negeri jauh atau perempuan-perempuan cantik, menghadapi orang-orang yang memiliki gagasan penuh prasangka. Hatinya juga bercerita tentang perjalanan-perjalanan, penemuan-penemuan, buku-buku dan perubahan.
Pada titik ini Santiago telah menjadi orang bijak. Dia telah belajar segala yang perlu diketahuinya, dan telah mengalami segala yang diimpikannya. Sangat berbeda jika saja ia tetap memutuskan untuk hanya menjadi penggembala. Sang Alkemislah yang mengajarkan padanya akan pentingnya mengikuti kata hatinya.
“Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita? Tanya si anakpada sang Alkemis.
“Sebab, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.”
Pada akhirnya Santiago tidak berhasil menemukan harta karun di piramid-piramid itu. Nyawanya bahkan hampir melayang oleh pengungsi perang antar suku yang menginginkan uang yang dimiliki Santiago. Tapi pelajaran penting yang didapat Santiago ketika itu adalah: Jangan mengabaikan pertanda dan suara hatimu.
***
Dalam setiap putaran dan rotasi bumi, banyak orang-orang menjalani kehidupan mengikuti sebuah rel yang lurus. Terjebak rutinitas konstan memenjarakan mimpi mereka. Misalnya, kehidupan seorang mahasiswa jurusan science. Setiap pagi, ia terbangun memikirkan berbagai tugas dan rutinitas yang harus dihadapinya hari ini: berangkat kuliah dengan bis damri yang menempuh lebih dari 20 mil, mendengarkan teori perkuliahan dan terkadang mangadakan praktikum, mengerjakan tugas dan terkadang diselingi main dan berkumpul dengan temannya. Bagitulah bumi ini menyaksikan rutinitasnya. Seolah orang itu akan mati jika tidak mengikuti rutinitas tersebut. Rutinitas yang sebenarnya menyimpang dari kata hatinya yang mengatakan,’Akan lebih baik jika Aku bisa bekerja untuk seni rupa atau grafis’.
Kisah lain yang disaksikan bumi ini salah satunya adalah sebuah keluarga miskin. Lingkungannya adalah lingkungan kumuh yang minim pendidikan dan informasi. Hampir setiap generasi mewarisi kemiskinan. Kepala keluarga ini hanyalah seorang buruh bangunan dengan 4 orang anak (dan masih mungkin bertambah karena tidak mengerti istilah Keluarga Berencana). Fikiranya telah terbentuk lingkungan bahwa, ya, inilah takdir mereka. Apalagi yang bisa mereka perbuat? Dalam hati kepala keluarga itu sebenarnya pernah terlintas untuk menyekolahkan anaknya dan mengintip kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik di massa depan. Tapi stigma lingkungan keluarga miskin—seperti juga yang terjadi pada Tukang Roti dalam The alchemist—, membatasi dan menenggelamkan kata hatinya itu. Padahal masih ada kesempatan dalam meraih beasiswa.
Mungkin hanya sedikit orang yang berani mengambil jalan perubahan seperti yang dilakukan Santiago dalam kisah The Alchemist. Perubahan itu memang selalu menyakitkan. Di dalamnya terdapat berbagai resiko yang mungkin menjadi blunder dalam hidup. Kisah The Alchemist juga mengingatkan saya pada filsafat Plato dalam Allegory of the Cave.
Diceritakan dalam kisah itu terdapat sekumpulan tawanan yang dikurung dalam sebuah gua yang gelap. Mereka terbelenggu rantai (secara tak sadar) dengan posisi melingkar saling berhadapan. Yang dapat mereka lihat hanya pantulan bayangan baik dari badan mereka sendiri maupun benda-benda di sekalilingnya, hingga akhirnya mereka menganggap bayangan sebagai dunia nyata dan mulai merasa nyaman dengannya.
Hingga suatu saat, salah seorang dari mereka terbebas. Dia menyadari bahwa di belakang kumpulan teman-temanya itu terdapat benda bercahaya yang memantulkan bayangan dari benda lainnya. Semula, matanya merasa sakit melihat benda bercahaya itu, namun akhirnya Ia mulai terbiasa. Akhirnya dia sadar bahwa bayangan bukanlah hal yang nyata, mereka hanyalah pantulan dari sebuah benda. Dia juga memberanikan diri keluar dari gua yang gelap. Sinar matahari semula menyakiti matanya, namun Ia segera membiasakan dan mulai melihat dunia nyata yang sebenarnya dan menyadari bahwa kehidupannya semula adalah kepalsuan.
Dia kemudian ingin menyadarkan teman-temannya dalam gua. Namun, karena telah terbiasa hidup dalam terang, dia berkali-kali terantuk saat memasuki gua yang gelap. Teman-temannya menganggap bahwa dia telah dibutakan oleh dunia luar. Usahanya untuk meyakinkan teman-temannya bahwa bayangan yang selama ini mereka anggap kenyataan hanyalah bayangan, mendapat reaksi penolakan dari teman-temannya yang sudah terlalu nyaman memandangi bayangan. Mereka takut menghadapi perubahan yang mereka fikir membawa bahaya seperti yang terjadi pada dia yang menjadi buta. Dia akhirnya diusir dari gua dan mereka tetap merasa nyaman hanya dengan memandangi bayangan yang mereka anggap nyata.
***
Saya tidak akan mengatakan kehidupan yang sedang kita jalani dengan segala rutinitasnya adalah kepalsuan. Hanya saja, jika kita mau sedikit menengok hati kita dan mendengarkan apa yang diinginkannya, barangkali kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya kita inginkan.
Barangkali kita akan mendengar bumi bercerita tentang seorang mahasiswa yang memutuskan berhenti kuliah di jurusan Kimia salah satu kampus bergengsi di negerinya karena ingin menjadi penulis yang akhirnya sukses dengan buku-bukunya yang menginspirasi. Seorang manajer yang berada di puncak karirnya, tapi memutuskan untuk mundur karena ingin menjadi koki. Seorang sarjana yang berhasil lulus hanya dari orang tua tukang becak yang berhasil mengambil kesempatan untuk membangun kehidupan lebih baik. Bahkan, seorang mualaf personil Band terkenal yang harus meninggalkan segala popularitasnya karena menemukan kedamaian tersendiri dalam berislam. Semua berawal dari hati.
Manusia seringkali tumbuh dengan bentukkan dari lingkungannya. Tapi kita bukanlah batu yang hanya menerima apapun perlakuan yang diberikan pada kita. Allah sebenarnya telah memberi kita akal dan kemampuan untuk menentukkan jalan hidup kita sendiri. Dan hati kecil kita (mungkin bisa disebut nurani atau batin) akan selalu mendorong kita untuk berada pada jalan yang benar. Kita diberi kebebasan (barangkali inilah yang membuat kita lebih istimewa disbanding Jin bahkan Malaikat) untuk memilih takdir kita sendiri dan tentu saja sebagai muslim kita seharusnya mendampingi usaha mewujudkan takdir dengan kesadaran bahwa Allah-lah satu-satunya yang berhak menentukan hasil akhirnya.