300x250 AD TOP

Footer

Para Kamerad

Jumat, 09 April 2010

Tagged under:

cerita dari bus

We the people fight for our existence
We don't claim to be perfect
But we're free
We dream our dreams alone
With no resistance
Fading like the stars we wish to be


Haah, ada-ada saja cerita yang saya dapat di bus DAMRI. Ceritanya, kemarin saya lagi rajin kuliah. Berangkat pagi dengan Bis Jurusan Elang-Jatinangor. Di perempatan Leuwi Panjang, ada dua anak kecil pengamen ngiclik (saya ga tau translasi indonesianya apaan) naik Bus—padahal kecepatan lagi tinggi. Jelas aja itu dua anak dimarahin Kernet dan seorang bapak (yang kayaknya juga kenalan si kernet).
“euuhh.. mun labuh mah sopir oge nu disalahkeun (Klo jatoh ntar sopir juga yang disalahin)!” Bentak sang Kernet.
“Rek nanaonan atuh! Eta rambut nepi ka dicet sagala! Sakola teu!?” Si Bapak yang segera saya tau sering dipanggil Emang itu juga ikut-ikutan ngebentak. (Ga usah ditranslate ya.. eheh).
Ya, dua anak ini emang merepresentasikan banget korban kemiskinan dan minimnya pendidikan. Satu anak cowok berambut cepak, pakean kummel dengan celana SD yang kayaknya udah dipake dari kemaren. Yang satunya lagi lebih parah, anak cewek yang usianya lebih tua. Rambut Mohawk pinggirnya dipapas abis. Lidahnya ditindik. Hhuaah, disaat anak lain seumuran mereka lagi sibuk sekolah, mereka nempuh resiko loncat dari satu bus ke bus lain.
Si dua anak Cuma diam. Ketawa-ketiwi
Si Emang kemudian melanjutkan, sekarang dengan nada sedikit bercanda. “Ari bapak maneh gawe naon? Indung maneh gawe naon?”
“Jualan bala-bala” Jawab anak cowok, cengengesan. Si anak cewek kayaknya agak canggung ngejawab rentetan pertanyaan dengan lidah ngemut tindik.
Kayaknya si Emang belum puas nih, “Rek jadi naon maraneh geus gede?”. Beberapa penumpang yang kebetulan ngedenger juga ketawa miris ngeliatin tingkah si Emang dan dua anak itu.
“Rek jadi preman urang..” jawab si anak masih cengengesan.
“Paeh we ti ayeuna!” Timpal si Emang, diikuti ketawa yang lebih lebar dari penumpang lain.
Saya sih bukan ketawa seneng ato merasa lucu ngedenger itu, lebih pada rasa miris.
Memasuki gerbang tol, deru bus disambut selimut kabut dan udara dingin. Sambil meroketkan pandangan menembus langit pagi berawan, saya mengajak otak saya buat sedikit berkontemplasi.
Hey, dua anak kecil tadi mungkin cuma titik partikel dari miliaran zat bernama manusia yang mempunyi –apa yang sering kita sebut masalah. Masalah itu sendiri kan, manurut tafsiran dangkal saya: suatu hal yang menyimpang dari rencana. Dan dua anak tadi menurut saya adalah masalah untuk masyarakat kita, atau mungkin buat mereka sendiri. Harusnya, klo emang berjalan sesuai rencana, sekarang mereka sedang menikmati pelajaran matematik, dan saat bel istirahat memanggil, mereka akan menghabiskan uang jajan yang dikasih orang tuanya. Mereka ngga perlu mengais (saya bilang sih tadi mereka bukan ngamen, tapi ngemis) recehan, entah buat mereka sendiri, atau bahkan mungkin buat setoran ke orang tuanya.
Jikapun mereka bersekolah, apakah artinya mereka bisa dikatakan terlepas dari masalah? Secara pragmatis mungkin ya, tapi bukankah adanya institusi sekolah adalah upaya mengatasi permasalahan masa depan? Bumi kecil yang menjadi tempat tinggal miliaran makhluk serakah bernama manusia mau ngga mau menetapkan sebuah hukum rimba buat penghuninya. Mereka yang ngga cukup pintar dan atau kuat akan tersisih. Kita ngga berada di zaman anarchy yang secara bebas menanggalkan status kepemilikan. Kita ngga bisa bebas mengambil sumber daya untuk memenuhi kebutuhan kita. Contoh kasarnya: Klo Pak Ogah butuh makan, dia khan harus punya uang makanya dia punya quotasi melegenda “gope dulu doong..”
Dan jikapun, kita benar-benar hidup di dunia utopis dimana kita bebas melakukan apapun, bebas mengambil apapun, bebas menikmati apapun yang kita mau, tanpa ada tanggung jawab atau timbal balik yang harus kita berikan, apakah kita benar-benar telah bebas dari masalah? Mungkin bisa dikatakan begitu. Tapi emang ada kehidupan kayak gitu? Klo surga mungkin iya. Selam kita hidup di dunia, kita ngga bakal pernah lepas dari masalah. Setuju?
Hoaahh, dari tadi bicara masalah mulu!
Ngga, engga, saya ngga niat cari masalah Kok. Hehe. Saya inget tempo hari pernah baca sebuah blog (sumpah saya lupa lagi alamatnya). Dalam blog ini si empunya memposting permasalahan utama eksistensi manusia, Klo ngga salah.
Manurut doi, seengganya ada 2 masalah utama eksistensi manusia. Yang pertama, kenyataan bahwa manusia itu sendiri hidup dan eksis di dunia ini. Kenapa eksisnya mereka di dunia menjadi masalah utama manusia? Ketika masih kecil semua serasa begitu bebas, tapi setelah dewasa, manusia mulai punya kesadaran yang terinsafi. Mereka mulai menyadari bahwa untuk bertahan hidup, banyak hal yang harus mereka lakukan. Mereka juga sadar bahwa di dunia ini orang lain juga mempunyai kehidupan sepertinya. Bukan hanya puluhan, ratusan atau ribuan, miliaran manusia lain seperti dirinya juga punya kehidupan.
Maka, segala permasalahan seperti yang telah dijelaskan di paragraf sebelumnyalah yang akan bekerja. Disini manusia akan mengenal resiko, tanggung jawab, kebahagiaan, kesedihan, usaha dan perangkat kehidupan lainnya. Solusi juga mulai bermunculan seperti adanya sekolah, lapangan kerja, lembaga, agama, pemerintahan, kelompok2, organisasi2, dan sebagainya. Intinya, permasalahan ini berawal dari pertanyaan, bagaimana manusia menjalani hidupnya?
Masalah utama yang kedua dalam eksistensi manusia adalah, kenyataan bahwa setelah manusia hidup, mereka akan mati. Manusia ngga bisa menutup mata bahwa setiap harinya, ada manusia lain yang terbujur kaku, tak mampu bergerak lagi, tak ada reaksi kehidupan dalam tubuhnya yang dingin. Inilah yang disebut kematian. Mengetahui bahwa dirinya –entah kapan tapi pasti juga akan mati (Kematian khan pengetahuan, bukan pengalaman :p) maka mereka akan diliputi ketidakpastian. Karena saya yakin, ngga ada manusia yang punya pengalaman mati. (mati suri ngga masuk hitungan, hehe). Ketidakpastian, pada akhirnya akan menimbulkan ketakutan. Ketakutan akan kematian, fitrah kan!?
Lalu bagaimana manusia menjawab permasalahan ini? Biasanya, mereka menutupi ketakutan ini dengan sebuah keyakinan, salah satunya agama. Surga dan Neraka, reinkarnasi, bahkan kembali menjadi materi merupakan beberapa jawaban untuk mengatasi ketakutan akan kematian yang ditawarkan oleh keyakinan. Ketika keyakinan telah mengakar dalam alam bawah sadar, maka keyakinan akan mendamaikan dan menentramkan hati dalam menghadapi ketakutan akan kematian. Jadi, permasalahan ini bisa diejawantahkan dengan pertanyaan bagaimana manusia menghadapi kematiannya?
Tapi kok, saya masih merasa ada yang kurang ya? Permasalahan utama eksistensi manusia yang ditulis di blog ini terlalu humanis. Sudut pandang si empunya blog mungkin dari sudut filsafat atau antropolog saya ngga ngerti. Yang jelas sebagai seorang muslim, ada satu pertanyaan lagi yang fundamental untuk eksistensi manusia. Dari mana manusia berasal? Pertanyaan ini adalah dasar permasalah identitas manusia. Jawaban kedua pertanyaan awal mungkin akan mengukuhkan eksistensi kita sebagai seorang manusia. Tapi dengan melengkapinya dengan pertanyaan ketiga, kita akan memahami kahikat kehidupan itu sendiri. Pemahaman kahikat kehidupan inilah yang akan memandu dan menentukan corak hidup manusia itu sendiri.

Akhirnya saya sampai di Jatinangor. Kadang kampus saya ini kerasa indahnya juga. Jalan di gerbang depan menuju halte angkot gratis hijau pepohonan (yang baru ditanam) dan gunung geulis yang serasa dekat sedikit menyejukkan mata. Matahari yang terus sembunyi perlahan menampakkan sinarnya dibalik awan hingga membentuk tirai aurora. Seketika rasa syukur banyak2 saya lafadzkan pada Sang Khalik.

1 comments: