300x250 AD TOP

Footer

Para Kamerad

Selasa, 11 Oktober 2011

Tagged under: ,

The Adjustment Bureau




“Bourne meet Inception”

Begitulah Total Film merating film ini dengan bintang 3 dari skala 5. Jika trilogy Bourne mencapai bintang 4 dan 4.5 untuk Inception, kenapa gabungan keduanya hanya dapat 3 bintang? Matt Damon yang mendapat peran sebagai David Norris—kandidat Senat Amerika untuk New York—memang berlari sebanyak ia berlari sebagai Bourne, permainan Sci Fi dengan beberapa efek flash mob juga dapat kita temukan seperti dalam Inception. Hanya saja, para spectator penggila jedar-jedor dan teka-teki Psikis boleh bersiap untuk kecewa. Pun dengan para pencara drama roman yang justru akan terganggu dengan bumbu metafisik.

Semua berawal saat David Norris yang kalah dalam pemilihan Senat harus menyampaikan pidato bagi para pendukungnya. Saat dia tengah mempersiapkan diri di sebuah Toilet, secara ‘kebetulan’ ia bertemu dengan seorang penari ballet Elise Sellas. Bla bla bla, mereka berbincang dan diakhiri dengan sebuah Spontan Kissing. Disini roman Shakespere memainkan peran. Cinta memang bisa merubah segalanya dan memberikan inspirasi bagi David untuk berimprovisasi dalam pidatonya. Oke, Popularitas David kembali meroket. Ia telah menyadari jika sang penari yang ‘kebetulan’ ditemuinya telah member kekuatan dan mungkin inilah yang sering dinamakan cinta. Tapi benarkah kebetulan itu memang ada?

Film ini menceritakan sekelompok orang yang bekerja ‘menyetel’ skenario takdir, nasib, jalan hidup—atau apalah namanya—seseorang, termasuk David. Bagaimana seorang Politisi yang lahir dalam lingkungan yang keras, sang kakak meninggal overdosis dan orang tuanya dibunuh, kini mendapat simpati masyarakat dan maju sebagai kandidat termuda pada usia 24 tahun. Itu semua telah disusun oleh kelompok misterius dengan topi dan jas abu-abu. Ketika David kembali bertemu Elise (secara kebetulan) di dalam Bis, skenario yang telah disusun Chairman kelompok ini seketika berantakan. David datang lebih awal ke kantornya dan mendapati mereka tengah mencuci otak temannya Harry.

Kelompok penyetel yang seharusnya tetap bekerja secara misterius sontak kaget karena identitas mereka diketahui David. Mereka akhirnya menawan David, mengancamnya bahwa jika Ia membuka identitas mereka pada orang lain, mereka akan mereset otak David. David akan kehilangan semua memorinya. Dan (tentu saja klimaks dari film ini) David dilarang menemui Elise. Elise dianggap sebuah ancaman yang dapat mengganggu skenario yang telah dibuat. Dan inilah inti film ini. Tentang pilihan David untuk mengejar karirnya (mengikuti skenario sang Chairman) atau mengorbankan segalanya demi cinta?

Entah apa tujuan awal George Nolfi sang director untuk film ini. Sci-fi-kah, atau drama romantis? Jika memang penulis naskah yang menjadi sutradara ini ingin menggabungkan keduanya, dia justru membuatnya menjadi tanggung. Saya harap Nolfi dapat lebih menjelaskan siapa sebenarnya kelompok berjas abu dan bertopi itu, malaikatkah? “Kita pernah dipanggil demikian” jawab skenario film ini. Mereka lebih seperti manusia biasa yang menggunakan buku pohon kemungkinan dan topi fedoras untuk membuka pintu lintas dimensi.

Okelah, ide metafisik mungkin hanya bumbu pelengkap. Kita masih bisa berharap pada kisah roman klasik antara David dan Elise. Karakter David yang Fokus dan Kalem sangat cocok dengan Elise yang Riang dan Spontan yang biasanya selalu berhasil membuat ibu-ibu rumah tangga tak rela hal apapun merintangi kisah mereka. Celakanya, mereka dirintangi sebuah kekuatan di luar nalar yang mengharuskan David jauh dari Elise.

“Kenapa, kenapa aku tidak bisa bersama dengannya?” Tanya David pada salah seorang anggota kelompok.

“Karna ketika kau bersamanya, kau tidak akan lagi merindukan simpati dan tepuk tangan rakyat. Kau akan terlena dan melupakan mimpimu menjadi seorang presiden.”

Bagaimanapun, Nama Matt Damon memang menjadi jaminan sebuah film Box Office. Alurnya cukup rapi, kita diajak bersimpati pada sosok David Norris dan kepolosan Elise. Sampai pertengahan menuju akhir, kita berada di puncak klimaks meski seharusnya Nolfi dapat memberikan Ending yang lebih baik.

Kamis, 06 Oktober 2011

Tagged under:

City of Flowers

A song for my friends in a far land across

Pack your bags we’re leaving out of town

Wear that big black scarf wrapped around your pretty face

I’m not gonna stand here hopelessly while I see you cry

Leave those mess we’ll jump in to the car

Roll the windows down get your senses back to you

And put out that cigarette that thing will kill you slowly

And yeah, it only takes two hours from here

Yeah, when we get there we’ll write our brand new story

We’re going to a place I know, where I was born

The city of flowers been waiting so long

Life too short you could’ve been shot

Remember this time, leave your troubles behind

All your life you’ve waited for a time when that someone

To get your feet back on the ground

I’ll be that someone to help just like in that Beatles song

So here we go we’re going to a place

At the rainbows end to put some colors back on you

Let me be the gold and I will put the shine on you

And yeah we only have two exits to go

Yeah when we get there the pages will start turning

And all the lies you heard before keep coming back to you

They linger on the places you’ve longing to forget

Well I won’t lie, it won’t be easy

Sometimes they’re back knocking on your door

Now you tell them that you don’t live here anymore


http://adhitiasofyan.wordpress.com/song-lyrics/


Tagged under: ,

Tidurlah..

Merujuk kamus besar bahasa endonesa, kata ‘mimpi’ punya dua makna. Pertama, mimpi sebagai sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat *Tambahan dari Wikipedia). Nah yang kedua, mimpi sebagai angan-angan. Lucunya, ketika saya membaca kamus besar ini, mimpi dalam makna kedua lebih banyak digambarkan sebagai khayalan, keinginan yang mustahil. Padahal selama ini telinga kita kenyang dengan keagungan cerita orang-orang yang gigih bermimpi.

Pertanyaannya, kenapa ya aktivitas berkhayal, bercita-cita, atau berimajinasi kemudian diasosiasikan dengan kata mimpi, bermimpi. Dan kesannya, derajat diksi mimpi lebih terhormat disbanding berkhayal. Apapun, saya sekarang seperti menghindar—jika bukan kurang suka—dari istilah mimpi, atau bermimpi, atau impian, atau imbuhan lain, terserah. Istilah-istilah ini seperti mengejek dan hanya berani menantang saya dalam, novel, film, seminar motivasi atau lagu.

Tidak ada yang bilang mewujudkan mimpi itu mudah. John Lennon mungkin memang beruntung. Tapi saya perhatikan, para ex-pemimpi adalah orang yang presisi, teguh, ulet, tahan dengan tekanan dan sekali lagi, beruntung.

Saya pesimis? Mungkin. Tapi saya lebih suka mengakui jika saya menikmati apa yang saya dapat sejauh ini, atau mungkin terlalu apatis menanggapi ambisi berlebih orang lain—jika ukurannya materi. Kamu yang merasa telah mencapai sukses boleh banding, “Mati aja deh lo!”

Oke saya mengerti. Apa yang bias dibanggakan dengan melepas bangku kuliah benefit untuk mengejar passion desain grafis sementara sekarang hanya menjadi operator setting? Saya hanya mengais sisa kebanggaan dengan langkah ‘keluar mainstream’ itu. Tapi hidup tidak hanya berjalan dengan kebanggaan kan!?

Saya ingin sekali berkata dengan penuh semangat, “Kejarlah mimpimu!”. Saya rasa saat ini diam lebih bijak daripada mengumbar persona kosong. Secara psikis saya lelah, saya perlu rehat. Tapi ukurannya, apa yang bias saya lakukan pasca rehat? Saya belum tahu. Saat ini saya butuh tidur.

Bagi saya, terlambat tidur sangat mengganggu. Dalam hening dan sepi yang merongrong, benteng batin berkali-kali digodam memori ketakberdayaan. Jelas saya butuh tidur cepat, mungkin sebagai pelarian.

Kawan, saya ingin kamu tahu bagaimana tidur sehat itu. Ada dua fase dalam tidur, fase orthodox dan paradoksikal. Pada fase orthodox (Non-rapid eye movement) semua kondisi tubuh kita berada dalam keadaan tenang. Fase ini mengambil 80% waktu tidur kita, pernafasan dan detak jantung stabil, otot-otot rileks dan tidak ada mimpi. Nah fase kedua, Paradoksikal (rapid eye movement) biasanya waktu dimana kita mengalami mimpi, gerakan bola mata cepat, peningkatan frekuensi pernapasan dan detak jantung. Di fase ini terjadi proses pemulihan emosi dan kemampuan kognitif karena selama fase itu aliran darah ke otak meningkat, sehingga sel otak lebih cepat tumbuh. Tidur sehat adalah ketika kita melewati dua fase tersebut. Mimpi adalah salah satu bagian penting. Jadi berharaplah kita bermimpi.

Setidaknya, saat kita bermimpi dalam tidur, indah atau buruk, ketika kita bangun tidak akan mengubah fakta bahwa kita masih hidup, masih punya kesempatan. Saya harus bersyukur. Entah bagaimana takdir, nasib dan hal-hal gaib lain menuntun hidup saya, saya berserah pada Dia Yang Menjalankan. Jika kamu sering mendengar saya berjargon, biarkan waktu yang menjawab, buka berarti saya hanya diam. Ya dalam diam saya berharap juga. Sekecil apapun celah yang Dia buka untuk jalan yang lebih baik, saya akan kejar. Saya percaya jika Dia, Allah pasti punya rencana.

Selamat tidur.

Rabu, 05 Oktober 2011

Tagged under: ,

Aftar The Rain

If I could bottled the smell of the wet land after the rain
I’d make it a perfume and send it to your house
If one in a million stars suddenly will hit satellite
I’ll pick some pieces, they’ll be on your way

In a far land across
You’re standing at the sea
Then the wind blows the scent
And that little star will there to guide me

If only I could find my way to the ocean
I’m already there with you
If somewhere down the line
We will never get to meet
I’ll always wait for you after the rain

http://adhitiasofyan.wordpress.com/forget-your-plans-lyrics/

download dari account akang Adhitianya aja yaa.. http://www.4shared.com/file/207593135/2a59274f/2_After_The_Rain.html