300x250 AD TOP

Footer

Para Kamerad

Kamis, 06 Oktober 2011

Tagged under: ,

Tidurlah..

Merujuk kamus besar bahasa endonesa, kata ‘mimpi’ punya dua makna. Pertama, mimpi sebagai sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat *Tambahan dari Wikipedia). Nah yang kedua, mimpi sebagai angan-angan. Lucunya, ketika saya membaca kamus besar ini, mimpi dalam makna kedua lebih banyak digambarkan sebagai khayalan, keinginan yang mustahil. Padahal selama ini telinga kita kenyang dengan keagungan cerita orang-orang yang gigih bermimpi.

Pertanyaannya, kenapa ya aktivitas berkhayal, bercita-cita, atau berimajinasi kemudian diasosiasikan dengan kata mimpi, bermimpi. Dan kesannya, derajat diksi mimpi lebih terhormat disbanding berkhayal. Apapun, saya sekarang seperti menghindar—jika bukan kurang suka—dari istilah mimpi, atau bermimpi, atau impian, atau imbuhan lain, terserah. Istilah-istilah ini seperti mengejek dan hanya berani menantang saya dalam, novel, film, seminar motivasi atau lagu.

Tidak ada yang bilang mewujudkan mimpi itu mudah. John Lennon mungkin memang beruntung. Tapi saya perhatikan, para ex-pemimpi adalah orang yang presisi, teguh, ulet, tahan dengan tekanan dan sekali lagi, beruntung.

Saya pesimis? Mungkin. Tapi saya lebih suka mengakui jika saya menikmati apa yang saya dapat sejauh ini, atau mungkin terlalu apatis menanggapi ambisi berlebih orang lain—jika ukurannya materi. Kamu yang merasa telah mencapai sukses boleh banding, “Mati aja deh lo!”

Oke saya mengerti. Apa yang bias dibanggakan dengan melepas bangku kuliah benefit untuk mengejar passion desain grafis sementara sekarang hanya menjadi operator setting? Saya hanya mengais sisa kebanggaan dengan langkah ‘keluar mainstream’ itu. Tapi hidup tidak hanya berjalan dengan kebanggaan kan!?

Saya ingin sekali berkata dengan penuh semangat, “Kejarlah mimpimu!”. Saya rasa saat ini diam lebih bijak daripada mengumbar persona kosong. Secara psikis saya lelah, saya perlu rehat. Tapi ukurannya, apa yang bias saya lakukan pasca rehat? Saya belum tahu. Saat ini saya butuh tidur.

Bagi saya, terlambat tidur sangat mengganggu. Dalam hening dan sepi yang merongrong, benteng batin berkali-kali digodam memori ketakberdayaan. Jelas saya butuh tidur cepat, mungkin sebagai pelarian.

Kawan, saya ingin kamu tahu bagaimana tidur sehat itu. Ada dua fase dalam tidur, fase orthodox dan paradoksikal. Pada fase orthodox (Non-rapid eye movement) semua kondisi tubuh kita berada dalam keadaan tenang. Fase ini mengambil 80% waktu tidur kita, pernafasan dan detak jantung stabil, otot-otot rileks dan tidak ada mimpi. Nah fase kedua, Paradoksikal (rapid eye movement) biasanya waktu dimana kita mengalami mimpi, gerakan bola mata cepat, peningkatan frekuensi pernapasan dan detak jantung. Di fase ini terjadi proses pemulihan emosi dan kemampuan kognitif karena selama fase itu aliran darah ke otak meningkat, sehingga sel otak lebih cepat tumbuh. Tidur sehat adalah ketika kita melewati dua fase tersebut. Mimpi adalah salah satu bagian penting. Jadi berharaplah kita bermimpi.

Setidaknya, saat kita bermimpi dalam tidur, indah atau buruk, ketika kita bangun tidak akan mengubah fakta bahwa kita masih hidup, masih punya kesempatan. Saya harus bersyukur. Entah bagaimana takdir, nasib dan hal-hal gaib lain menuntun hidup saya, saya berserah pada Dia Yang Menjalankan. Jika kamu sering mendengar saya berjargon, biarkan waktu yang menjawab, buka berarti saya hanya diam. Ya dalam diam saya berharap juga. Sekecil apapun celah yang Dia buka untuk jalan yang lebih baik, saya akan kejar. Saya percaya jika Dia, Allah pasti punya rencana.

Selamat tidur.

0 comments:

Posting Komentar