Tagged under: gratisan dari kodok, perjalanan kodok

Saya baru saja selesai membaca sebuah ebook berjudul panduan dasar desain grafis. Saya tidak akan membahas isi buku ini karena ya, buku ini memang hanya berisi panduan awal dalam mengenal dunia desain grafis. Hal menarik dari ebook ini adalah bagaimana Vinsensus mengajak kita yang mungkin sudah lama gemar –dan cukup mahir—membuat grafis, ilustrasi, vector, layout, flash, desain web, retouching foto dan sebagainya untuk kembali berpijak pada pondasi kokoh, yaitu peran seni sebagai ruh karya kita.
Ebook ini menjelaskan setidaknya ada 5 prinsip dasar dari seni. Kesederhanaan, kesatuan, keseimbangan, penekanan dan repetisi (pengulangan). Sedangkan seni itu sendiri harus bersifat indah dan teratur. Tapi toh, ternyata banyak juga orang-orang yang sebelumnya tidak pernah belajar teori semacam ini, tapi mereka tetap bisa mengkonversi idenya menjadi sebuah karya yang bisa diapresiasi. Hal yang menyadarkan saya bahwa memang potensi seni sejak awal telah tertanam di setiap benak manusia. Bahwa manusia memang punya suatu kebutuhan akan seni itu sendiri. Dan secara naluriah, manusia akan berusaha mencari dan memenuhi kebutuhan ini.
Bagaimana kota bandung, sejak ditetapkan kilometer nol oleh Dandels hingga kini telah menjelma menjadi sebuah kota—dengan tata letak dan ruangnya menjadi sebuah keteraturan yang indah (terlepas dari segala permasalahan lingkungannya). Bagaimana Barcelona memainkan sepakbola menyerang dengan kombinasi passing-passing pendek dan skill individu setiap pemain hingga tercipta gol yang memanjakan mata penonton, itu adalah seni. Bahkan, bagaimana seorang pedagang martabak berusaha meramu terigu, gula dan bahan-bahan lain menjadi sebuah adonan yang legit dan ketika dia berhasil membuat lidah konsumennya menari, dengan bangga dia berujar, “ini pekerjaan seni bung..”. Seni tidak dapat dipisahkan dalam hidup manusia.
Antara sebuah situs dengan tampilan standar, button kotak dan menu berjajar rapi tapi kaku, atau situs lain dengan berbagai visual dan animasinya, mana yang kamu pilih? Antara buku science dengan paragraf-paragraf penuh tanpa white space atau majalah dengan berbagai ilustrasi dan tipografi menarik, mana yang kamu pilih? Kecuali kamu kutubuku psycho, saya rasa kebanyakan dari kamu lebih milih opsi-opsi kedua. Alasannya sederhana, karna seni lebih ‘nyentuh’ ke hati. Jadi, di bidang apapun kamu berkarya, seni bisa jadi mediasi buat menarik hati audience. Sesederhana itu.
Sekarang kita bicara di ranah professional. Misalnya kamu pekerja seni, entah kamu seorang pelukis, penulis, sastrawan, musisi, illustrator, desainer grafis, entrepreneur, arsitek atau bahkan atlit. Kamu cukup mengerti peran visualisasi karya kamu buat menarik hati pasar, tapi apakah kamu cukup mengerti posisi seni dalam karya kamu? Contoh paling gampang sih gini, misalnya industri distro yang sempat jadi prodigy tapi saya rasa sekarang mengalami stagnasi. Klo dulu kaos-kaos sangat kaku, industri distro hadir dengan gaya urban art yang seketika meledak populer. Seni visual hadir bak penyelamat dahaga dinamika kreativitas para pemuda. Kamu pasti kenal label-label macam 347, Ouval, Airplane, Black ID dan ribuan label lain yang belakangan menjalar bak jamur, justru dapat menjatuhkan pasar import macam adidas, nike, quicksilver atau volcom. Setidaknya di Bandung.
Tapi saya bilang industri ini stagnan karna ya—secara pribadi sih, saya pikir jika ada orang-orang yang memakai kaos dengan brand-brand distro ternama rasanya biasa-biasa saja. Kaos-kaos printed art bisa ditemukan dan didapat dengan mudah. Ngga harus merogoh kocek terlalu dalam atau capek-capek menyempatkan datang ke venue distro ternama jika kaos dengan tampilan menarik bisa kita dapat di emperan pinggir jalan. Ya terlepas dari masalah branding yang masih punya pengaruh, tapi saya belum punya kualifikasi buat membahas isu ini.
Terfikir kemudian di benak saya. Apakah memang kreatifitas itu ada batasnya? Klo stagnasi memang pasti ada. Bahkan seberpengalaman apapun pekerja seni, doi pasti pernah mengalami stagnasi atau kejenuhan. Masa dimana inspirasi tiba-tiba tenggelam, sulit dirangkul. Tapi saya yakin mereka selalu punya trik-trik buat mengantisipasinya. Seperti pertanyaan di dua paragraf sebelumnya, mungkin pelaku industri distro—terutama di kelas oportunis, hanya mengandalkan visualisasi yang menarik tanpa mempertimbangkan peran seni sebagai ruh dari karya mereka.
Dalam majalah Concept, Djoko hartanto menganalogikan isu ini seperti bongkahan es dan puncak gunung es di lautan. Jika dilihat dari kejauhan, puncak gunung es yang kokoh berdiri di dasar lautan terlihat sama saja dengan bongkahan es yang sekedar mengapung. Nahkoda kapal Titanic juga agaknya punya sudut pandang seperti ini. Tapi jika bongkahan es dengan mudah bisa hancur jika ditabrak, puncak gunung es yang kokoh justru mampu menenggelamkan kapal ini.
Tanpa memiihak siapapun, para oportunis (label-lebel distro abal-abal) hanya mengandalkan visualisasi yang menarik tanpa substansi seni dalam karyanya. Jika terus begitu, karya mereka akan berakhir seperti bongkahan es yang hancur saat ditabrak kapal bernama persaingan pasar. Terlepas dari selera konsumen kita yang pasaran dan latah, saya kira karya dengan substansi seni yang sejati pada saatnya akan mengambil tempat di hati konsumen. Mereka akan berjodoh dengan konsumen yang cukup dewasa dalam mengapresiasi sebuah ‘karya seni’ bukan sekedar ‘karya pasar’. Laiknya puncak gunung es yang ditopang badan gunung sebagai esensi seninya.
Walaupun ebook sederhana ini hanya menyentuh dasar pengembangan desain grafis, tapi menurut saya buku ini cocok buat kamu menggali identitas ruh seni kamu sendiri dalam menghasilkan masterpiece yang bisa diterima para apresiator. Sekali lagi, seni itu masalah hati, saya yakin jika memang jodoh, karya kamu bisa dihargai setinggi langit oleh orang-orang yang bisa merasakan ruh, semangat serta pesan yang ingin kamu sampaikan dalam karya kamu.
sedoot, ebooknya disini
*sebenernya saya udah post di beberapa post sebelumnya
Tagged under: gratisan dari kodok
perahu kertas
Neptunus,
Walaupun saya bukan agen anda, izinkan saya melaporkan kisah 2 orang agen anda yang bernama Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas.
Semoga di tengah laut keingintahuan manusia, akhirnya ada yang menemukan kisah ini dan mencomot sirat pesan yang saya gurat di dalamnya. Enjoy it..
Saya bingung, sejak pertama mata saya merangkul novel tebal berilustrasi perahu dan 2 orang anak diatasnya ini, entah kenapa buku ini seolah bergravitasi, mengeksploitasi segala hasrat saya. Saya coba dekati dan rangkul buku ini, tapi dengan angkuhnya, buku ini menepis sentuhan saya dengan plastik yang melapisi seluruh kulitnya. Huuuff, saya lirik pinggulnya mulusnya. Wow harganya mahal!
Butuh setahun lebih buat saya dapat ebooknya*. Saya bukan penikmat baca, apalagi jika harus baca di LCD, capek rasanya. Tapi lagi-lagi, novel ini memberi arus deras yang menyeret fikiran saya terus terhanyut dalam rangkaian alurnya.
Dewi Lestari (Dee) memang labih soft mengolah Perahu Kertas. Setidaknya jika dibanding gaya ilmiah dan filosofis Trilogi Supernova atau permainan plot dan sudut pandang Rectoverso. Perahu kertas tampil lebih sederhana, namun menggigit dan mencerahkan. Lewat novel ini, agaknya Dee mempunyai misi da’wah buat semua manusia. Makna hidup yang sederhana, namun sering terlupakan. Passion.
Adalah Kugy dan Keenan, dua tokoh utama novel ini dengan karakter yang kuat. Mereka berdua punya mimpi. Kugy ingin menjadi penulis dongeng, sedang Keenan jadi pelukis. Kisah cinta memang selalu—dan agaknya harus selalu ada di setiap novel. Mungkin sebagai ulas warna pada corak canvas waktu kehidupan. Dan warna cinta di novel ini tak lain berokulasi antara Kugy dan Keenan. Kadang, ulasnya terasa begitu menyala, haru, gemas, lucu hingga perut terasa dikocok, tapi tak jarang terasa begitu mellow. Kombinasinya membuat goresan cinta kisah ini terasa begitu dekat. Mungkin mengharukan, tapi ngga cengeng. Saya yakin kamu pernah merasakan apa yang namanya chemistry saat bertemu dengan orang yang kamu sayangi, perasaan aneh ketika berada dekat dengannya, rasa sesal saat doi ngejauhin kamu, atau kecewa saat doi telah memiliki tambatan hati lain. Tergurat juga kisah persahabatan abadi Kugy, Keenan, Eko dan Noni, tentunya dengan berbagai konflik yang mewarnai. Bagaimana antara cinta dan persahabatan beresonansi dan melengkapi.
Memang seperti itulah kisah cinta yang selalu dibawakan—bahkan sejak zaman pujangga lama. Setidaknya, dalam novel ini kisah cinta mereka terasa dekat, karena mereka bermain di area diri mereka sendiri. Ngga perlu jadi orang lain yang selalu harus tampil sempurna agar dicintai. Jujur pada diri sendiri adalah kuncinya. Hingga akhirnya novel ini bakal mengajarkanmu bahwa waktu telah punya jawabannya sendiri.
Kita jalan-jalan sebentar ke area energi minimal. Dua pemimpi seperti Kugy dan Keenan sebenarnya sah-sah saja dimiliki manusia, tapi reallitas mungkin hanya tertawa mendengar cita-cita mereka. Mana ada profesi penulis dongeng yang bikin hidup benefit? Mana bisa ngandelin kepul dapur Cuma dari lukisan?
Isu energi minimal inilah yang coba diangkat Dee dalam Perahu Kertas. Bagaimana Kugy tetap percaya bahwa suatu saat dia akan menjadi pendongeng, menjadi dirinya sendiri. Serta bagaimana Keenan—walaupun cita-citanya kehitung lebih masuk akal, tapi keluarganya begitu menentangnya menjadi pelukis. Perjalanan mereka mengejar mimpinya, membuat lembar demi lembar tergambar bagai sorot proyektor sampai kita lupa bahwa ini hanyalah buku, rangkaian kata.
Ngga sedikit orang yang cukup beruntung dalam usaha mereka menyatakan mimpinya, tapi ngga sedikit juga diantara mereka yang harus menyerah dengan keadaan dan lingkungan yang mengikat mereka. Misalnya seorang yang punya passion di bidang fotografi, tapi karna tuntutan masa depan yang terikat materi, akhirnya doi malah kuliah di Keteknikan yang imejnya lebih ‘menjanjikan’ dibanding fotografi. Ngga salah sih, di planet realitas—seperti yang Kugy bilang di novel ini—memang aturannya seperti ini. Selalu materi yang berbicara lebih lantang.
Senyum mengembang di wajah Keenan. Hangat. “Gy, jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat, kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.”
Ya, inilah yang coba sisampaikan Dee. Menjadi diri sendiri. Hidup rasanya terlalu singkat jika kita hanya terpaku, menjadi mesin hasrat pemenuh kebutuhan perut kita. Ada hal lain yang jauh lebih berharga untuk diperjuangkan. Passion kita. Hal yang membuat kita nyaman dan nikmat dalam mengerjakannya. Hal yang saat kita kerjakan—selelah apapun, kita akan selalu menikmatinya, dan mengeluarkan potensi terbaik kita.
kamu bisa download versi ebooknya
di sini
tapi pliss, menurut saya, novel ini sangat layak koq klo kamu beli versi cetaknya..
apresiasi karya anak bangsa lah..
Tagged under: gratisan dari kodok
Dok, minal aidzin wal faidzin yaa.. maaf buat semua salah yang gue pernah bikin sama lo. Udah lama gua ngga ngobrol sama lo. Bentar, gua ke warung depan dulu, beli super ma kuaci buat temen ngobrol kita.

Gini Dok, seminggu ini kira-kia udah 4 kali gua nonton film Janji Joni. Emang ajiip ni film. Terakhir gue nonton khan dulu sama lo pas taun baruan (ntah taun baru kapan), nonton gratisan di SCTV. Waktu itu umur kita masih SMP, jadi ngga terlalu ngerti ni film nyeritain apaan. Berawal dari Laptop temen gue yang dititipin ke gue, maka nonton lah gue ni film Janji Joni. Trus gue kopiin ke desktop gue (maaf ya teh, ngga minta ijin ngopiin, hehe), trus gue kopiin lagi ke temen gue yang lain, nontonlah gue sama doi, trus berlanjut, gue kopiin lagi ke temen yang lain-lain, nontonlah lagi gue sama doi yang lain. Huwaa bingung khan lo!
The point is, gue ngerasa ni film terbaik yang pernah dibuat industri film Indonesia. Ceritanya emang sederhana Dok, tapi pesan-pesan minor di sela-sela perjalanan si Joni yang menurut gue bagus banget buat vitamin hidup kita. Biar lo juga lebih ngerti gimana cerdas dan ekselennya film ni, gue review lagi deh beberapa potong dialog dari film ini.
Ngga jadi ah, kebanyakan, ntar malah jadi spoiler dong. Karna ternyata banyak juga temen-temen gue yang belon pernah nonton ni film, klo pun udah, pasti udah pada lupa lagi. Soalnya ni khan film lama. Jadi gue kasih point-point pentingnya aja dari apa yang mau disampein Joko Anwar, directornya.
Ceritanya si Joni lagi di toilet mau pipis. Ternyata di situ udah ada Tora Sudiro dan Winky Wiryawan lagi debat Dok. Debat soal film yang baru mereka tonton. Kayaknya sih yang baru mereka tonton film drama romantic, soalnya yang kemudian mereka debatin adalah, “Dalam masalah cinta, apakah kita mesti nyari seorang belahan jiwa kita yang bener-bener cocok ato kita Cuma tinggal pilih random pasangan kita trus kita usahain agar relationship kita berhasil?”
Buat gue ni pertanyaan sangat sangat menggelitik. Emang Cuma dua point itu sih yang sering gue temuin di kasus-kasus relationship temen-temen gue. Jadi, gue balik nanya ke lo Dok, lo khan masih jomblo, nah menurut lo, pasangan yang pas buat lo yang mana? Apakah yang mesti cocok banget sama lo, ada chemistry, love at the first sight dan lo percaya bahwa di dunia ini lo diciptain udah sepaket sama pasangan lo, Cuma masalah waktu sampe akhirnya lo nemuin pasangan abadi lo ini. Rasanya lo ngga bisa hidup klo ngga sama pasangan lo. Klo lo masuk kategori ini, maka lo termasuk penganut picisan Romeo and Juliet.
Pilihan kedua, lo ngebangun relationship sendiri. Chemistry bisa datang belakangan, lo ngga selalu mentingin gereget hati. Yang penting, lo ngebangun cinta lo sampe dengan sendirinya cinta tumbuh mengakar dan menjulang. Ato sederhananya, lo ngga kejebak cinta buta Dok. Istilah gampangnya, not a blind love. Nah, klo lo ngerasa masuk sama kategori ini, gue yakin lo penganut Fahri dan Aisyah di Ayat-ayat cinta. So, pilih yang mana Dok? The Choice is yours.
Lo, koq jadi kebanyakan ngobrolin masalah cinta gini kita. Yasud lah, sekarang gue mau share point penting yang lain yang ada di film ini, yaitu gimana caranya lo nikmatin kerjaan Dok. Gue koq ngerasa sekarang orang-orang kerja tuh cumin buat Menuhin tuntutan perut doing ya. Klo ngga kerja, gimana dapur bisa ngebul? Lo sering kan denger stereotip kayak gitu.
Nah, di film ini, wlopun doi cumin kerja sebagai pengantar rol film bioskop, tapi doi nikmatin banget kerjaannya. Klo udah nikmat kita ngerjain sesuatu, maka yang kita kejar bukan melulu masalah uang Dok, tapi kebanggaan, prestise, dedikasi dan etos kerja yang tinggi. ‘Udah setaun ue nganterin rol film, belum pernah gue telat’, kata Joni.
Trus darimana rasa nikmatin kerjaan bisa dateng Dok? Menurut gue (dan udah sering gue bilang sama lo), lo mesti kerja sama passion lo Dok. Klo kerja sama passion, pekerjaan apapun itu, lo bakal nikmatin soalnya lo kerja sama energi minimal lo. Hasrat kuat yang bakal nopang semangat lo.
Adam Subandi (Soedjiwo Tedjo) seorang seniman nyentrik sempet nanya sama Joni. “Memangnya bisa kerjaan nganterin rol film ngasilin duit?” ya emang bener sih, kenyataan sekarang, duit ngga bisa lepas dari hidup kita, seideologis apapun lo. Kebanyakan orang nyari kerja, buat nyari duit. Alas, Joni beda Dok! Doi nyari kerja buat hasrat doi Menuhin passionnya. Dan sekecil ato seremeh apapun pekerjaan lo nantinya, lo bakal bangga Dok. Lo cari tahu deh passion Joni apaan di film ini.
Film ni film cerdas, cocokah buat semua umur, terutama buat remaja nanggung kayak lo yang ceritanya lagi nyari jati diri.
Ah.. ya.. gue lupa inti pesen yang gue dapet dari 90 menit gue nonton film ni. Hargai proses Dok. Klo sekedar mentingin hasil, Cuma capek yang lo dapet Dok. Hargai proses maka lo bakal dapet nilai tambah dari berbagai hikmah yang lo dapet. Ni Dok, gue kasih dah link donlotnya CD 1 & CD 2, barangkali lo bisa nemu lebih banyak pesen dari ni film.
Lo juga bisa donlot Original Soundtracknya, kebanyakan yang ngisi musisi-musisi indie macem The Adams, White Shoes and The Couple Company, Zeke and The Popo, banyak deh.. keren lah
Tagged under: buah dari bis DAMRI, perjalanan kodok
Ingin sekali lo ada disini Dok. Menemani gue di dalam bis ini. Di dinginny kota ini.
Dalam derak laju bis yang menggilas aspal basah gerimis, dua lampu kecil meremangkan punggung-punggung lelah para penumpang. Dan di jok kaku belakang ini, cuma tersisa setengah batang rokok dan King of Convenience yang nemenin gue.
Lo cukup diem dan berbagi rokok sama gue. Tidak usah ad tembok diksi yang membelit. Cukup silang asap yang mengepul buat kita saling menyelami.
Biarkan lampu rumah-rumah atau toko-toko sekilas memanjakan mata kita. Barangkali dalam klisenya kita bisa mafhum dengan kehampaan ini.
Ah, sedetik penggalan waktu ini rela Dok, gua tuker sama setahun umur gua.
Tagged under:
Ingin sekali lo ada disini Dok. Menemani gue di dalam bis ini. Di dinginny kota ini.
Dalam derak laju bis yang menggilas aspal basah gerimis, dua lampu kecil meremangkan punggung-punggung lelah para penumpang. Dan di jok kaku belakang ini, cuma tersisa setengah batang rokok dan King of Convenience yang nemenin gue.
Lo cukup diem dan berbagi rokok sama gue. Tidak usah ad tembok diksi yang membelit. Cukup silang asap yang mengepul buat kita saling menyelami.
Biarkan lampu rumah-rumah atau toko-toko sekilas memanjakan mata kita. Barangkali dalam klisenya kita bisa mafhum dengan kehampaan ini.
Ah, sedetik penggalan waktu ini rela Dok, gua tuker sama setahun umur gua.