300x250 AD TOP

Footer

Para Kamerad

Selasa, 28 September 2010

Tagged under: ,

Esensi Seni


Saya baru saja selesai membaca sebuah ebook berjudul panduan dasar desain grafis. Saya tidak akan membahas isi buku ini karena ya, buku ini memang hanya berisi panduan awal dalam mengenal dunia desain grafis. Hal menarik dari ebook ini adalah bagaimana Vinsensus mengajak kita yang mungkin sudah lama gemar –dan cukup mahir—membuat grafis, ilustrasi, vector, layout, flash, desain web, retouching foto dan sebagainya untuk kembali berpijak pada pondasi kokoh, yaitu peran seni sebagai ruh karya kita.
Ebook ini menjelaskan setidaknya ada 5 prinsip dasar dari seni. Kesederhanaan, kesatuan, keseimbangan, penekanan dan repetisi (pengulangan). Sedangkan seni itu sendiri harus bersifat indah dan teratur. Tapi toh, ternyata banyak juga orang-orang yang sebelumnya tidak pernah belajar teori semacam ini, tapi mereka tetap bisa mengkonversi idenya menjadi sebuah karya yang bisa diapresiasi. Hal yang menyadarkan saya bahwa memang potensi seni sejak awal telah tertanam di setiap benak manusia. Bahwa manusia memang punya suatu kebutuhan akan seni itu sendiri. Dan secara naluriah, manusia akan berusaha mencari dan memenuhi kebutuhan ini.
Bagaimana kota bandung, sejak ditetapkan kilometer nol oleh Dandels hingga kini telah menjelma menjadi sebuah kota—dengan tata letak dan ruangnya menjadi sebuah keteraturan yang indah (terlepas dari segala permasalahan lingkungannya). Bagaimana Barcelona memainkan sepakbola menyerang dengan kombinasi passing-passing pendek dan skill individu setiap pemain hingga tercipta gol yang memanjakan mata penonton, itu adalah seni. Bahkan, bagaimana seorang pedagang martabak berusaha meramu terigu, gula dan bahan-bahan lain menjadi sebuah adonan yang legit dan ketika dia berhasil membuat lidah konsumennya menari, dengan bangga dia berujar, “ini pekerjaan seni bung..”. Seni tidak dapat dipisahkan dalam hidup manusia.
Antara sebuah situs dengan tampilan standar, button kotak dan menu berjajar rapi tapi kaku, atau situs lain dengan berbagai visual dan animasinya, mana yang kamu pilih? Antara buku science dengan paragraf-paragraf penuh tanpa white space atau majalah dengan berbagai ilustrasi dan tipografi menarik, mana yang kamu pilih? Kecuali kamu kutubuku psycho, saya rasa kebanyakan dari kamu lebih milih opsi-opsi kedua. Alasannya sederhana, karna seni lebih ‘nyentuh’ ke hati. Jadi, di bidang apapun kamu berkarya, seni bisa jadi mediasi buat menarik hati audience. Sesederhana itu.
Sekarang kita bicara di ranah professional. Misalnya kamu pekerja seni, entah kamu seorang pelukis, penulis, sastrawan, musisi, illustrator, desainer grafis, entrepreneur, arsitek atau bahkan atlit. Kamu cukup mengerti peran visualisasi karya kamu buat menarik hati pasar, tapi apakah kamu cukup mengerti posisi seni dalam karya kamu? Contoh paling gampang sih gini, misalnya industri distro yang sempat jadi prodigy tapi saya rasa sekarang mengalami stagnasi. Klo dulu kaos-kaos sangat kaku, industri distro hadir dengan gaya urban art yang seketika meledak populer. Seni visual hadir bak penyelamat dahaga dinamika kreativitas para pemuda. Kamu pasti kenal label-label macam 347, Ouval, Airplane, Black ID dan ribuan label lain yang belakangan menjalar bak jamur, justru dapat menjatuhkan pasar import macam adidas, nike, quicksilver atau volcom. Setidaknya di Bandung.
Tapi saya bilang industri ini stagnan karna ya—secara pribadi sih, saya pikir jika ada orang-orang yang memakai kaos dengan brand-brand distro ternama rasanya biasa-biasa saja. Kaos-kaos printed art bisa ditemukan dan didapat dengan mudah. Ngga harus merogoh kocek terlalu dalam atau capek-capek menyempatkan datang ke venue distro ternama jika kaos dengan tampilan menarik bisa kita dapat di emperan pinggir jalan. Ya terlepas dari masalah branding yang masih punya pengaruh, tapi saya belum punya kualifikasi buat membahas isu ini.
Terfikir kemudian di benak saya. Apakah memang kreatifitas itu ada batasnya? Klo stagnasi memang pasti ada. Bahkan seberpengalaman apapun pekerja seni, doi pasti pernah mengalami stagnasi atau kejenuhan. Masa dimana inspirasi tiba-tiba tenggelam, sulit dirangkul. Tapi saya yakin mereka selalu punya trik-trik buat mengantisipasinya. Seperti pertanyaan di dua paragraf sebelumnya, mungkin pelaku industri distro—terutama di kelas oportunis, hanya mengandalkan visualisasi yang menarik tanpa mempertimbangkan peran seni sebagai ruh dari karya mereka.
Dalam majalah Concept, Djoko hartanto menganalogikan isu ini seperti bongkahan es dan puncak gunung es di lautan. Jika dilihat dari kejauhan, puncak gunung es yang kokoh berdiri di dasar lautan terlihat sama saja dengan bongkahan es yang sekedar mengapung. Nahkoda kapal Titanic juga agaknya punya sudut pandang seperti ini. Tapi jika bongkahan es dengan mudah bisa hancur jika ditabrak, puncak gunung es yang kokoh justru mampu menenggelamkan kapal ini.
Tanpa memiihak siapapun, para oportunis (label-lebel distro abal-abal) hanya mengandalkan visualisasi yang menarik tanpa substansi seni dalam karyanya. Jika terus begitu, karya mereka akan berakhir seperti bongkahan es yang hancur saat ditabrak kapal bernama persaingan pasar. Terlepas dari selera konsumen kita yang pasaran dan latah, saya kira karya dengan substansi seni yang sejati pada saatnya akan mengambil tempat di hati konsumen. Mereka akan berjodoh dengan konsumen yang cukup dewasa dalam mengapresiasi sebuah ‘karya seni’ bukan sekedar ‘karya pasar’. Laiknya puncak gunung es yang ditopang badan gunung sebagai esensi seninya.
Walaupun ebook sederhana ini hanya menyentuh dasar pengembangan desain grafis, tapi menurut saya buku ini cocok buat kamu menggali identitas ruh seni kamu sendiri dalam menghasilkan masterpiece yang bisa diterima para apresiator. Sekali lagi, seni itu masalah hati, saya yakin jika memang jodoh, karya kamu bisa dihargai setinggi langit oleh orang-orang yang bisa merasakan ruh, semangat serta pesan yang ingin kamu sampaikan dalam karya kamu.

sedoot, ebooknya disini
*sebenernya saya udah post di beberapa post sebelumnya

0 comments:

Posting Komentar