perahu kertasNeptunus,
Walaupun saya bukan agen anda, izinkan saya melaporkan kisah 2 orang agen anda yang bernama Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas.
Semoga di tengah laut keingintahuan manusia, akhirnya ada yang menemukan kisah ini dan mencomot sirat pesan yang saya gurat di dalamnya. Enjoy it..
Saya bingung, sejak pertama mata saya merangkul novel tebal berilustrasi perahu dan 2 orang anak diatasnya ini, entah kenapa buku ini seolah bergravitasi, mengeksploitasi segala hasrat saya. Saya coba dekati dan rangkul buku ini, tapi dengan angkuhnya, buku ini menepis sentuhan saya dengan plastik yang melapisi seluruh kulitnya. Huuuff, saya lirik pinggulnya mulusnya. Wow harganya mahal!
Butuh setahun lebih buat saya dapat ebooknya*. Saya bukan penikmat baca, apalagi jika harus baca di LCD, capek rasanya. Tapi lagi-lagi, novel ini memberi arus deras yang menyeret fikiran saya terus terhanyut dalam rangkaian alurnya.
Dewi Lestari (Dee) memang labih soft mengolah Perahu Kertas. Setidaknya jika dibanding gaya ilmiah dan filosofis Trilogi Supernova atau permainan plot dan sudut pandang Rectoverso. Perahu kertas tampil lebih sederhana, namun menggigit dan mencerahkan. Lewat novel ini, agaknya Dee mempunyai misi da’wah buat semua manusia. Makna hidup yang sederhana, namun sering terlupakan. Passion.
Adalah Kugy dan Keenan, dua tokoh utama novel ini dengan karakter yang kuat. Mereka berdua punya mimpi. Kugy ingin menjadi penulis dongeng, sedang Keenan jadi pelukis. Kisah cinta memang selalu—dan agaknya harus selalu ada di setiap novel. Mungkin sebagai ulas warna pada corak canvas waktu kehidupan. Dan warna cinta di novel ini tak lain berokulasi antara Kugy dan Keenan. Kadang, ulasnya terasa begitu menyala, haru, gemas, lucu hingga perut terasa dikocok, tapi tak jarang terasa begitu mellow. Kombinasinya membuat goresan cinta kisah ini terasa begitu dekat. Mungkin mengharukan, tapi ngga cengeng. Saya yakin kamu pernah merasakan apa yang namanya chemistry saat bertemu dengan orang yang kamu sayangi, perasaan aneh ketika berada dekat dengannya, rasa sesal saat doi ngejauhin kamu, atau kecewa saat doi telah memiliki tambatan hati lain. Tergurat juga kisah persahabatan abadi Kugy, Keenan, Eko dan Noni, tentunya dengan berbagai konflik yang mewarnai. Bagaimana antara cinta dan persahabatan beresonansi dan melengkapi.
Memang seperti itulah kisah cinta yang selalu dibawakan—bahkan sejak zaman pujangga lama. Setidaknya, dalam novel ini kisah cinta mereka terasa dekat, karena mereka bermain di area diri mereka sendiri. Ngga perlu jadi orang lain yang selalu harus tampil sempurna agar dicintai. Jujur pada diri sendiri adalah kuncinya. Hingga akhirnya novel ini bakal mengajarkanmu bahwa waktu telah punya jawabannya sendiri.
Kita jalan-jalan sebentar ke area energi minimal. Dua pemimpi seperti Kugy dan Keenan sebenarnya sah-sah saja dimiliki manusia, tapi reallitas mungkin hanya tertawa mendengar cita-cita mereka. Mana ada profesi penulis dongeng yang bikin hidup benefit? Mana bisa ngandelin kepul dapur Cuma dari lukisan?
Isu energi minimal inilah yang coba diangkat Dee dalam Perahu Kertas. Bagaimana Kugy tetap percaya bahwa suatu saat dia akan menjadi pendongeng, menjadi dirinya sendiri. Serta bagaimana Keenan—walaupun cita-citanya kehitung lebih masuk akal, tapi keluarganya begitu menentangnya menjadi pelukis. Perjalanan mereka mengejar mimpinya, membuat lembar demi lembar tergambar bagai sorot proyektor sampai kita lupa bahwa ini hanyalah buku, rangkaian kata.
Ngga sedikit orang yang cukup beruntung dalam usaha mereka menyatakan mimpinya, tapi ngga sedikit juga diantara mereka yang harus menyerah dengan keadaan dan lingkungan yang mengikat mereka. Misalnya seorang yang punya passion di bidang fotografi, tapi karna tuntutan masa depan yang terikat materi, akhirnya doi malah kuliah di Keteknikan yang imejnya lebih ‘menjanjikan’ dibanding fotografi. Ngga salah sih, di planet realitas—seperti yang Kugy bilang di novel ini—memang aturannya seperti ini. Selalu materi yang berbicara lebih lantang.
Senyum mengembang di wajah Keenan. Hangat. “Gy, jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat, kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.”
Ya, inilah yang coba sisampaikan Dee. Menjadi diri sendiri. Hidup rasanya terlalu singkat jika kita hanya terpaku, menjadi mesin hasrat pemenuh kebutuhan perut kita. Ada hal lain yang jauh lebih berharga untuk diperjuangkan. Passion kita. Hal yang membuat kita nyaman dan nikmat dalam mengerjakannya. Hal yang saat kita kerjakan—selelah apapun, kita akan selalu menikmatinya, dan mengeluarkan potensi terbaik kita.
kamu bisa download versi ebooknya
di sini
tapi pliss, menurut saya, novel ini sangat layak koq klo kamu beli versi cetaknya..
apresiasi karya anak bangsa lah..

tafi mahal, gan.
BalasHapustafi sebanding lah