300x250 AD TOP

Footer

Para Kamerad

Jumat, 29 Oktober 2010

Tagged under:

Ahmed Mobile Suite

Another Illustrator Work

Minggu, 24 Oktober 2010

Tagged under:

acoustic jam session

ignorance (acoustic)
you treat me just like another stranger
well it’s nice to meet you sir
i guess i’ll go
i best be on my way out
ignorance is your new best friend









vindicated acoustic
And I am flawed
But I am cleaning up so well
I am seeing in me now the things you swore you saw yourself

Vindicated,
i'm selfish
i'm wrong
i'm right
i'm swear i'm right
swear i knew it all along











love song
However far away, I will always love you
However long I stay, I will always love you
Whatever words I say, I will always love you
I will always love you













sunday morning (acoustic)

But things just get so crazy living life gets hard to do
Sunday morning rain is falling and I’m calling out to you
Singing someday it’ll bring me back to you
Find a way to bring myself back home to you

Kamis, 07 Oktober 2010

Tagged under:

Surat Buat Papah

Pah, tadi siang ada seorang bapak dan anak perempuannya yang ngamen ke kantor Ndra. Seketika Ndra jadi kangen sama Papah. Kata Mamah, sekarang Papah megang 2 proyek langsung. Sehat kan di Bogor Pah? Banyak hal Pah yang pengen Ndra certain. Beberapa hal mungkin bakal ngebuat Papah bangga, ngga sedikit yang yang buat Papah kecewa. Tapi Ndra yakin kejujuran bakal jauh lebih baik.

Pah, selama ini, di seperlima abad Ndra hidup, Ndra begitu kenyang dilimpahi kebanggaan Papah. Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, Papah terus ngasih yang terbaik buat Ndra. Bayangkan, seorang pekerja kasar terus berjuang tanpa lelah sampai bisa mendudukan anaknya di bangku kuliah salah satu PTN bergengsi. Titel yang susah didapat kebanyakan pemuda di kampung kita. Bahkan teman Papah sekaliber Om Noviar atau Pak Suryaman aja ngerasa iri sama Papah. Tapi Pah, bukan rasa bangga yang kemudian tergores di canvas benak Ndra. Hanya rasa sesal dan bersalah yang sesungguhnya melingkupi.

Awalnya Ndra juga bangga. Saat temen-temen seangkatan Ndra banyak yang tak berkesempatan merasakan bnagku kuliah, apalagi di PTN, Ndra jadi salah seorang yang beruntung. Bahkan Ndra sempet dapet Beasiswa dengan jerih payah Ndra sendiri. Tapi waktu emang sebuah misteri pah. Perlahan Ia mengenalkan Ndra pada ke-aku-an Ndra sejatinya. Dimana dunia Ndra seharusnya berada. Ndara semakin merasa asing dengan berbagai deret angka, kajian analitik, logika dan kalimat-kalimat ilmiah, sementara imaji, kreativitas visual, bentuk dan tata ruang, serta kombinasi warna semakin merongrong di otak kanan Ndra. Terlepas dari segala permasalahan Ndra di kampus, masalah terbesar tak lain hadir di diri Ndra sendiri.

Ndra adalah seorang perfeksionis yang penuh ketakutan dan mudah terbeban. Ndra rapuh dengan tekanan ekspektasi Papah dan ketidakmampuan Ndra. Berkali-kali Ndra nyoba bangkit, namun berkali-kali pula Ndra terantuk.

Pah, Ndra ngga bisa terus begini. Ndra harus nyari jalan lain, hingga akhirnya Ndra mutusin berhenti kuliah dan nyari kerja. Ya, Alhamdulillah sekarang Ndra udah dapet kerjaan yang sesuai dengan passion Ndra. Ndra kerja di digital printing, jadi operator setting dan grafis. Banyak temen-temen yang mikir klo Ndra gila. Mungkin Ndra hanya seorang pengecut yang tak cukup berusaha di bangku kuliah eksakta. Ndra terlalu egois dengan menyia-nyiakan kesempatan yang justru jutaan pemuda lain menginginkannya. Terlebih Ndra udah 6 smester kuliah. Tapi Ndra tentu, jauh lebih faham keadaan Ndra sendiri.

Alhamdulillah Pah, Ndra betah sekali di tempat kerja Ndra sekarang. Meski awalnya Ndra juga ragu jika mental Ndra belum tentu siap untuk dinamika kerja. Hanya pembuktian yang Ndra berusaha kasih buat Papah. Bahwa Ndra bisa survive di dunia kerja—wlopun gajinya kecil— dengan passion yang Ndra punya. Ndra tau dan sangat sadar jika Ndra nyoba ganti seluruh pengorbanan Papah buat ngejeblosin Ndra ke bangku kuliah, maka Ndra ngga akan pernah bisa membayarnya.

Cuma satu mimpi Ndra buat Papah yang ngga pernah berubah. Suatu saat, rumah yang Papah bangun adalah rumah kita sendiri, dengan design bikinan Ndra—wlopun Ndra bukan arsitek ato designer interior, hehe. Disana bakal lebih banyak ruang dan waktu buat kita berbagi. Dimensi yang jarang kita dapat selama belasan tahun ini. Ndra bangga banget jadi anak seorang lelaki seperti Papah. Papah adalah pahlawan yang nyata buat Ndra.

Miss you so much Pah.

Seperti biasa, malam ini, setelah lelah bekerja Papah habiskan waktu di kesendirian. Tidak ada Mamahmu yang memijat atau sekedar menyediakan kopi hangat. Tidak ada riuh tengkar kedua adikmu. Hanya sunyi malam dan bias suara televisi berbicara sendiri. Terkadang sepi ini sedikit terobati ketika di jaringan telepon, Mamahmu menyampaikan jika semua anaknya sudah pulang ke rumah dan mengerjakan PR-PRnya.

Papah tidak pernah menuntut terlalu banyak pada kalian. Kau mungkin selalu mendengar cerita, bagaimana sulit dan perihnya hidup yang Papah dan Mamahmu harus lalui. Papah hanya mencoba memberikan hidup yang Papah sendiri tak pernah dapatkan. Namun mungkin justru disinilah bibit kasih dan sayang tumbuh. Menjadi akar rasa sayangmu, adik-adimu. Di titik ini, sedapat mungkin Papah akan berikan yang terbaik untuk kalian.

Sebagaimana Ndra, Papah juga anak sulung. Papah mengerti benar beban yang harus ditanggung seorang anak sulung dari sebuah keluarga seperti kita. Terkadang Papah melihat tangis, bahkan dalam senyummu saat kau mengatakan semua baik-baik saja. Walau akhirnya Papah tak pernah bisa berbuat banyak, Papah terus mencoba percaya pada Ndra.

Ndra. Ndra adalah anak Papah, Papah mengerti dan tau benar bakat dan Potensi Ndra. Papah bahkan masih ingat gambar Bugs Bunny dan Satria Baja Hitam yang Ndra gambar sewaktu TK. Papah tidak akan pernah mengekang potensimu, bahkan Papah akan terus mendukung.

Kerasnya hidup memang telah membuat Papah jadi seorang yang naif. Namun tak pernah ada niatan Papah menuntut balas darimu. Papah hanya ingin agar kau tidak merasakan hidup yang harus Papah jalani. Jika bukan karna masa depan anak-anak Papah, Papah tidak akan pernah kuat mengarungi arus hidup ini. Kalianlah alasan mengapa Papah masih bertahan.

Ndra, jalanmu masih panjang. Akan banyak yang kau pelajari dari waktu. Dunia dengan sendirinya akan menempa kedewasaanmu, hingga akhirnya kau siap menanggung beban yang lebih besar. Keluargamu sendiri. Maka ingatlah selalu, dimanapun kamu berjuang untuk hidupmu, jangan pernah lupa akar kasih sayang yang telah Papah dan Mamahmu pupuk. Berikan yang terbaik untuk orang-orang yang kau sayangi.

Tagged under:

skeptisisme

Hari ini bukan ulang tahun saya. Bukan tahun baru manapun, juga bukan awal atau akhir bulan Ramadhan. Tapi entah kenapa, di ruang kerja dengan segala hiruk pikuk khas percetakan, agen otak divisi kontemplasi tiba-tiba melancarkan serangan ke jantung pertahanan kesadaran saya. Selidik punya selidik, ternyata semua berawal dari impuls yang ditransmisikan setalah indra penglihatan saya membaca sebuah prosa dari seorang teman saya. Prosa yang dia publikasikan lewat jejaring sosial. Jejaring sosial yang saya akses sembunyi-sembunyi di tempat kerja saya ini. Di beberapa kalimatnya tersirat pesan khusus hingga departemen perhubungan hati saya berstatus siaga satu.

Pesan sederhana tentang indahnya memperjuangkan kebenaran. Tentu saja bukan epik Kotaro Minami—Satria Baja Hitam membela kenenaran membasmi kejahatan yang saya maksud. Pernah dengar kisah epic para aktivis da’wah? Indahnya ukhuwah yang menyimpul diantara mereka? Dan romantisme-romantisme lain yang terkadang eksklusif, hanya mereka yang benar-benar mafhum. Ya kira-kira hal-hal seperti itu lah pesan sederhana yang saya maksud.

Di kesempatan lain, ngga sengaja saya menemukan sebuah dummy bulletin yang mungkin akan diperbanyak di percetakan ini. Saya baca-baca isinya. Buletin ini dibuat para aktivis mahasiswa yang mencoba menyampaikan pesan perubahan untuk negeri ini. Atau setidaknya kasta intelektual lain di lingkungan mereka. Tanpa pernah bertemu sebelumnya dengan pembuat bulletin ini, saya bisa merasakan gelora semangat mereka menyuarakan kebenaran versi mereka—yang lebih Nasionalis. Teman baik , sampai sekarang juga masih aktif dengan berbagai agenda memperjuangkan kebenaran di kelompoknya. Kelompok dengan gerakan merakyat katanya.

Masih ditempat yang sama, dengan segala hiruk pikuknya. Semua orang disini ngga sadar klo diam-diam saya bermain dengan kaleidioskop memori saya. Memutar-mutar beberapa rangkaian warna yang di beberapa bagian berkilau indah sedang di bagian lain tampak kusam. Meter usia saya saat ini masih menunjukan status pemuda. Klo Bang Rhoma bilang, ‘masa muda, masa yang berapi-api’. Sama seperti teman saya yang menulis prosa berona da’wah, seperti para mahasiswa nasionalis pembuat bulletin, seperti teman saya yang berjuang atas nama rakyat. Sama seperti ribuan,bahkan jutaan pemuda lain yang dengan semangat memperjuangkan kebenaran—versi mereka sendiri. Saking semangatnya, ngga jarang ada gesekan-gesekan antar kelompok.

Kesadaran saya kembali jatuh di atas kursi sender, di depan set desktop, di tengah ruang kerja. Saya melihat kesekeliling. Hanya ada deretan desktop, printer, mesin copy, berbagai jenis kertas, serakan dokumen, beberapa orang yang sibuk memberi servis pada konsumen. Ruangan yang cukup artistic, namun kusam. Kenapa saya yang bersosok pemuda berakhir di tempat seperti ini?

Saya pernah merasakan dinamikanya memperjuangkan kebenaran. Merasakan romantismenya dengan sahabat-sahabat seperjuangan. Di area da’wah islam saja saya pernah merasakan berbagai kelompok harakah, dari mulai HT, tarbiyah bahkan cap sesat seperti N11. Saya juga pernah merasakan bagaimana semangat pergerakan yang dibawa kaum intelektual saat saya masih kuliah. Bahkan saya pernah singgah di area utopis dengan para anarkis. Wlopun semua ngga saya benar-benar mendalaminya, saya pernah merasakan semangat itu. Dinamika memperjuangkan cita-cita perubahan. Menjadi Agent of Change.

Lalu di titik mana saat ini saya berada?

Di sebuah tempat kerja dengan jam kerja sangat padat dan upah sangat kecil. Di sosok pemimpi melankolis. Di dalam ke-aku-an yang terlampau lelah menyusuri dinamika perjuangan hingga akhirnya tersesat di lorong hasrat. Individu yang sepenuhnya ingin merasakan kebebasan, namun sejatinya teralienasi dalam usahanya memperjuangkan kebebasannya itu. Saya yang sudah terlalu skeptis dengan berbagai pergerakan pemuda. Mereka yang seolah-olah hanya berjuang melaksanakan berbagai program mereka tanpa meter keberhasilan yang jelas. Berjuang hanya untuk romantisme perjuangan belaka. Saat masih aktif mereka begitu bersemangat, tapi waktu akhirnya membawa mereka terseret arus hidup dan kenyataan hingga mereka akhirnya hanya terjebak menjadi seorang oportunis. Saat ditanya, ‘Memang sampai mana sih arah keberhasilan gerakan kalian? Sampai saat ini, apa kalian sudah merasa berhasil memperjuangkan kebenaran kalian?’ Saya hafal jawaban mereka, ‘Setidaknya kita sudah berusaha.’

Saya yang saat ini hanya berjuang untuk diri saya sendiri. Memperjuangkan mimpi saya. Menghadapi masalah yang ada di depan mata saya. Saya cukup nyaman dengan keadaan dan pencapaian yang saya dapat saat ini. Wlopun saya tidak tau akan dimana ini berakhir. Biarkan waktu yang menjawab, selalu kalimat ini yang menemani saya. Terdengar klise? Memang. Hanya saya dan Tuhan yang ngerti makna kalimat ini. Bagi saya kebenaran adalah rasa puas konsumen atas servis saya. Servis saya yang menjadi salah satu solusi untuk keberhasilan mereka menjalankan program mereka.

Sekian.

Tagged under: ,

Arete

Wah gak tau kenapa nih jam biologisku lagi kacau. Tadi siang aku ngantuk banget, jadi aku lemes mau ngelakuin apapun. Sekarang aku gak bisa tidur. Hm…
Oh iya. Temenku, Torezero, di edisi 1 (volume 2) maze microzine nulis tentang energi minimal. Aku jadi inget beberapa tahun yang lalu waktu aku masih suka kumpul-kumpul di Salman. Mari kita membuka lembaran-lembaran ingatanku yang mengendap di mundus imaginalis-ku. Mari:
Waktu itu aku lagi dalam masa pengenalan unit literasi yang aku ikuti di Salman ITB. Ada beberapa rangkaian acara yang harus aku ikuti. Salah satunya adalah ikutan sharing bareng senior unit tersebut tentang menulis sebagai energi minimal. Kang Al, begitu kami memanggilnya, memulai diskusi itu dengan kisah tentang Socrates si “Lalat-penyengat” kota Athena. Filsuf yang—pada akhirnya--membuat aku penasaran hingga aku relain nyari-nyari artikel tentang dia di internet dan memebeli sebuah buku di Tobucil. Konon Socrates memiliki sebuah teori yang disebut sebagai dikaiosyne. “Dikaiosyne adalah keadaan ketika manusia bertindak adil (dike) dengan menempuh suatu jalan hidup dan pekerjaan yang tepat untuk dirinya, serta tidak mencampuradukkannya dengan jalan hidup dan pekerjaan orang lain” (oops… hapal bagget kata-per-kata ya? Ya jelas lah. Aku nyontek ke artikel tulisan dia! Hehe) begitu versi dikaiosyne yang difahami oleh seniorku itu. Menurut seniorku ini, setiap manusia itu memiliki sebuah arete yang berbeda-beda. “Arete adalah suatu keunggulan yang dimiliki setiap manusia dalam hidupnya.” Dia memberi contoh: “misalnya, arete alat pangkas adalah untuk memotong dahan-dahan pohon—karena dia melakukan hal itu lebih baik dari alat lainnya.” Jadi kayak alat pemotong itu, setiap manusia punya sebuah “cetak-biru-kehidupan” yang disebut arete. “Fungsi” manusia apa ya? Kayak perkakas aja!
Hm… sebenernya aku nggak begitu setuju sih sama teori cetak-biru-kehidupan ini, soalnya jadi kayak predestined banget. Tapi dari apa yang seniorku itu uraikan, nampaknya dia lagi pengen ngebantah teori tabularasa yang jadi salah satu zeitgeist manusia modern: setiap orang itu seperti selembar kertas kertas kosong yang siap untuk ditulisi apa aja. Jadi manusia itu kayak yang pasif dibentuk sama lingkungannya. Yah , kok malah jadi sama-sama mengarah ke predestinasi sih (takdir manusia itu tabularasa)? Yang jelas setau aku: saat kita lahir kita tidak mengetahui apa-apa ato kalaupun tau juga masih terbatas. Itu artinya secara epistemologis kita seperti selembar kertas kosong tabularasa. Dan selama perjalanan hidup kita, pengetahuan kita bertambah dan akal kita berkembang (makanya ada istilah aqil baligh). Terus kalo secara ontologis, kita—dalam beberapa hal—seperti yang dipredestinasikan. Misalnya kita gak pernah milih untuk jadi manusia kan? Kita juga punya keterbatasan yang bersifat fisikal. Misalnya mata. Mata cuman bisa kita gunain untuk melihat sejauh apa yang bisa kita lihat. Kita gak bisa ngelihat jasad renik atau benda-benda mikroskopis hanya dengan mengandalkan mata telanjang kita. Sama halnya ketika kita nggak mampu melihat planet Nibiru tanpa bantuan teleskop. Itu artinya kita punya berbagai keterbatasan yang sering kita sebut sebagi qadar. Manusia memiliki berbagai keterbatasan (qadar) tapi manusia juga ditakdirkan (qadar) memiliki kehendak bebas. Sehingga dalam keterbatasannya itu di bisa melakukan berbagai pilihan yang terbaik buat dia. Btw, kita lanjutin.
“Bila seseorang menjalankan fungsi yang dirancang untuknya, dengan sempurna, maka ia dipandang memiliki arete.” Begitu kata Kang Al. Arete, arete… ada yang ngartiinnya sebagai virtue. Tapi dari hasil penelususranku di internet, aku lebih memilih arti kata arete sebagai “being the best you can be”; arete itu adalah “the highest potential that we can reach”. Tapi kayaknya ukuran “the highest” di sini juga relatif baget: tiap orang itu berbeda-beda, jadi arete-nya juga beda-beda karena setiap orang itu unik. [Nah tinggal kita perjelas aja maksud arete sebagai cetak-biru-kehidupan itu seperti apa. OK. Di maze edisi 1 temanku, Torezero, menulis:
“Sebuah temuan menunjukkan bahwa di dalam otak kita tersimpan semacam cetak biru yang telah terbentuk sejak usia 21 minggu dalam kandungan…. Ditemukan bahwa ada semacam proporsi pola wadah sesuai delapan komponen kecerdasan. Logika matematika, logika bahasa, spasial-visual, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal dan naturalistik. Masing-masing individu memiliki pola yang khas sesuai dirinya.”
“Proporsi pola wadah ini bersifat menetap, meski perkembangan saraf-saraf di otak terus bertambah. Inilah kecerdasan potensi. Namun, dalam perjalanan hidupnya, belum tentu kecerdasan potensial ini kemudian berkembang menjadi performa sebagaimana pola yang naturnya. Bisa jadi, dalam keseharian, komponen kecerdasan potensi yang menjadi kelebihan justru tidak berkembang karena pengaruh lingkungan (nurture) dan sebaliknya, komponen yang secara natur inferior justru berkembang. Kecerdasan yang terbentuk oleh nurture ini adalah Kecerdasan Performa. Walau kemudian kedua kecerdasan ini bermanfaat bagi eksistensi ‘kita-manusia’, saya berpendapat bahwa kecerdasan potensi akan menjadikan ‘kita-manusia’ lebih ‘manusia’.” (maze edisi 1 versi PDF, halamannya belum dibikin)
Waduh Torezero, gaya tulisan kamu drastis berubah gini. Btw… bisa jadi arete itu emang merupakan “cetak-biru-kehidupan” tapi dalam bentuk potensi--yang bisa berubah karena lingkunan dan pola asuh (nurture). Seperti yang Torezero tulis, karena pola asuh lingkungan kita, potensi yang sebenernya bisa menjadi kelebihan kita justru tidak berkembang. “Kecerdasan potensi” atau arete berubah menjadi “kecerdasan performa”. Tapi tetep ajah saya masih nggak bisa ngerti. Kalo arete itu emang “cetak-biru-kehidupan”, terus kalo seorang seniman itu emang ditakdirkan harus jadi seniman gitu, matematikus ditakdirkan sebelumnya sebagai matematikus… Tapi bisa aja sih kalo misalnya kecerdasan logis seorang matematikus itu mengalir bersama gen orangtuanya, kemudian menjadi potensi yang menunggu diaktualkan. Aktual atau nggak itu tergantung pada pola asuh, lingkungan dan kemandirian orang itu untuk memilih jadi autentik: dari “kita-manusia” (dasman) menjadi “manusia” (dasein).]
OK lah kalo begitu, taro aja kita emang memiliki sebuah arete. Maka ketika kita melakukan aktivitas atau pekerjaan sesuai dengan arete yang kita miliki, maka itu adalah kondisi dikaosyne. Tapi sayangnya, seperti yang telah disinggung oleh Torezero, kita selalu telah dikondisikan oleh lingkungan kita sehingga tidak semua dari kita dapat mengetahui apa arete yang dimilikinya. Lalu?
Seniorku itu menyarankan kami, saya dan teman-teman di unit literasi Salman itu, untuk mengingat sebuah sophia perennis (oops buat yang sensi sama istilah ini, afwan yah aku nggak bermaksud nyinggung kalian); sebuah kebijakan universal yang melintasi perbedaan kultur, ras, agama… “Kenalilah dirimu sendiri”, “Gnothi se authon” kata orang Yunani, “Man `arafa nafsahu…” Kenalilah diri kita, maka salah satu capaiannya adalah kita menemukan apa arete kita.
Pernah denger cerita Albert Einstein? Dulu waktu dia masih kecil dia itu sangat lemah dalam berbagai mata pelajaran kecuali matematika, dan fisika. Bahkan karena kelemahannya itu, dia sampai diprediksikan oleh guru-guru yang sempet mengajarnya sebagai orang yang nggak akan jadi apa-apa. Tapi Einstein tau apa arete-nya, dia memilih jadi seorang fisikawan. Dan akhirnya semua kata-kata gurunya itu nggak terbukti. Karena Einstein kini menjadi fisikawan yang cukup memengaruhi dunia sains. Seniorku itu berkata,”Ketika seseorang menjalani peran yang sesuai dengan minat dan bakatnya, maka dengan energi minimalnya ia bisa kerja keras siang malam namun tetap senang dan bergairah.”
Dulu seniorku itu kuliah di FSRD ITB. Dia bercerita, suatu kali ketika dia mengumpulkan tugas berupa paper, dosennya berkomentar: sebenernya kamu itu lebih berbakat di bidang literasi daripada seni. Dia bercerita bagaimana ketika dia kuliah dulu sebenernya seperti ada sesuatu yang hilang sehingga dia tidak bisa menikmati apa yang dia pelajari. Apa yang dikatakan oleh dosennya itu menjadi kenyataan, seniorku itu kini menjadi seorang editor di sebuah penerbit yang cukup dikenal di kota Bandung.
Kayaknya enak banget ya kalo kita udah bisa nemuin apa arete kita. Tapi seperti yang aku katain tadi, kita sering tertekan oleh kondisi lingkungan hingga kita susah nemuin apa arete kita. “Jangan ambil jurusan itu! Ntar kamu mau jadi apa?” itu kira-kira tekanan yang selalu datang ketika kita tertekan karena kebingungan milih major kuliah. Kadang lingkungan kita selalu menginginkan kita menjadi orang-orang yang hidup sukses, punya mobil bagus, gaji 8 digit, rumah mewah. Tapi kita jarang diberi kesempatan untuk menjadi orang yang sukses hidup bahagia menjadi diri kita sendiri. Padahal kekayaan itu bukan segalanya karena dengan kekayaan kita tidak dapat membeli kebahagiaan.
Waktu diskusi itu, seniorkubercerita ihwal temannya yang “nekad” ngambil jurusan filsafat karena dia emang suka dengan filsafat. Walaupun banyak stereotipe berkoar disekitarnya: “Emang kamu entar mau jadi apa? Emang ada tempat kerja yang bakalan nerima lulusan filsafat?”, tapi dia tetap milih major itu. Dan semua stereotipe itu nggak ada satu pun yang terbukti, kini teman senirku itu malah dapat bekerja dengan energi minimalnya. Dia sekarang menjadi seorang dosen, ngisi seminar, dan jadi penulis buku. Bahkan dia nggak nyari pekerjaan tapi pekerjaan yang nyari dia, karena masih jarang orang-orang yang memiliki kapasitas intelektual seperti dia. Walaupun kita bukan Einstein, Kang Al ato temen seniorku itu, tapi setidaknya dari apa yang terjadi sama orang-orang itu bisa menginspirasi kita mengenali diri kita dan menemukan arete yang dianugrahkan buat kita.
Selamat mengarungi perjalanan kehidupan. Voyage!() Isyroqi