300x250 AD TOP

Footer

Para Kamerad

Kamis, 07 Oktober 2010

Tagged under: ,

Arete

Wah gak tau kenapa nih jam biologisku lagi kacau. Tadi siang aku ngantuk banget, jadi aku lemes mau ngelakuin apapun. Sekarang aku gak bisa tidur. Hm…
Oh iya. Temenku, Torezero, di edisi 1 (volume 2) maze microzine nulis tentang energi minimal. Aku jadi inget beberapa tahun yang lalu waktu aku masih suka kumpul-kumpul di Salman. Mari kita membuka lembaran-lembaran ingatanku yang mengendap di mundus imaginalis-ku. Mari:
Waktu itu aku lagi dalam masa pengenalan unit literasi yang aku ikuti di Salman ITB. Ada beberapa rangkaian acara yang harus aku ikuti. Salah satunya adalah ikutan sharing bareng senior unit tersebut tentang menulis sebagai energi minimal. Kang Al, begitu kami memanggilnya, memulai diskusi itu dengan kisah tentang Socrates si “Lalat-penyengat” kota Athena. Filsuf yang—pada akhirnya--membuat aku penasaran hingga aku relain nyari-nyari artikel tentang dia di internet dan memebeli sebuah buku di Tobucil. Konon Socrates memiliki sebuah teori yang disebut sebagai dikaiosyne. “Dikaiosyne adalah keadaan ketika manusia bertindak adil (dike) dengan menempuh suatu jalan hidup dan pekerjaan yang tepat untuk dirinya, serta tidak mencampuradukkannya dengan jalan hidup dan pekerjaan orang lain” (oops… hapal bagget kata-per-kata ya? Ya jelas lah. Aku nyontek ke artikel tulisan dia! Hehe) begitu versi dikaiosyne yang difahami oleh seniorku itu. Menurut seniorku ini, setiap manusia itu memiliki sebuah arete yang berbeda-beda. “Arete adalah suatu keunggulan yang dimiliki setiap manusia dalam hidupnya.” Dia memberi contoh: “misalnya, arete alat pangkas adalah untuk memotong dahan-dahan pohon—karena dia melakukan hal itu lebih baik dari alat lainnya.” Jadi kayak alat pemotong itu, setiap manusia punya sebuah “cetak-biru-kehidupan” yang disebut arete. “Fungsi” manusia apa ya? Kayak perkakas aja!
Hm… sebenernya aku nggak begitu setuju sih sama teori cetak-biru-kehidupan ini, soalnya jadi kayak predestined banget. Tapi dari apa yang seniorku itu uraikan, nampaknya dia lagi pengen ngebantah teori tabularasa yang jadi salah satu zeitgeist manusia modern: setiap orang itu seperti selembar kertas kertas kosong yang siap untuk ditulisi apa aja. Jadi manusia itu kayak yang pasif dibentuk sama lingkungannya. Yah , kok malah jadi sama-sama mengarah ke predestinasi sih (takdir manusia itu tabularasa)? Yang jelas setau aku: saat kita lahir kita tidak mengetahui apa-apa ato kalaupun tau juga masih terbatas. Itu artinya secara epistemologis kita seperti selembar kertas kosong tabularasa. Dan selama perjalanan hidup kita, pengetahuan kita bertambah dan akal kita berkembang (makanya ada istilah aqil baligh). Terus kalo secara ontologis, kita—dalam beberapa hal—seperti yang dipredestinasikan. Misalnya kita gak pernah milih untuk jadi manusia kan? Kita juga punya keterbatasan yang bersifat fisikal. Misalnya mata. Mata cuman bisa kita gunain untuk melihat sejauh apa yang bisa kita lihat. Kita gak bisa ngelihat jasad renik atau benda-benda mikroskopis hanya dengan mengandalkan mata telanjang kita. Sama halnya ketika kita nggak mampu melihat planet Nibiru tanpa bantuan teleskop. Itu artinya kita punya berbagai keterbatasan yang sering kita sebut sebagi qadar. Manusia memiliki berbagai keterbatasan (qadar) tapi manusia juga ditakdirkan (qadar) memiliki kehendak bebas. Sehingga dalam keterbatasannya itu di bisa melakukan berbagai pilihan yang terbaik buat dia. Btw, kita lanjutin.
“Bila seseorang menjalankan fungsi yang dirancang untuknya, dengan sempurna, maka ia dipandang memiliki arete.” Begitu kata Kang Al. Arete, arete… ada yang ngartiinnya sebagai virtue. Tapi dari hasil penelususranku di internet, aku lebih memilih arti kata arete sebagai “being the best you can be”; arete itu adalah “the highest potential that we can reach”. Tapi kayaknya ukuran “the highest” di sini juga relatif baget: tiap orang itu berbeda-beda, jadi arete-nya juga beda-beda karena setiap orang itu unik. [Nah tinggal kita perjelas aja maksud arete sebagai cetak-biru-kehidupan itu seperti apa. OK. Di maze edisi 1 temanku, Torezero, menulis:
“Sebuah temuan menunjukkan bahwa di dalam otak kita tersimpan semacam cetak biru yang telah terbentuk sejak usia 21 minggu dalam kandungan…. Ditemukan bahwa ada semacam proporsi pola wadah sesuai delapan komponen kecerdasan. Logika matematika, logika bahasa, spasial-visual, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal dan naturalistik. Masing-masing individu memiliki pola yang khas sesuai dirinya.”
“Proporsi pola wadah ini bersifat menetap, meski perkembangan saraf-saraf di otak terus bertambah. Inilah kecerdasan potensi. Namun, dalam perjalanan hidupnya, belum tentu kecerdasan potensial ini kemudian berkembang menjadi performa sebagaimana pola yang naturnya. Bisa jadi, dalam keseharian, komponen kecerdasan potensi yang menjadi kelebihan justru tidak berkembang karena pengaruh lingkungan (nurture) dan sebaliknya, komponen yang secara natur inferior justru berkembang. Kecerdasan yang terbentuk oleh nurture ini adalah Kecerdasan Performa. Walau kemudian kedua kecerdasan ini bermanfaat bagi eksistensi ‘kita-manusia’, saya berpendapat bahwa kecerdasan potensi akan menjadikan ‘kita-manusia’ lebih ‘manusia’.” (maze edisi 1 versi PDF, halamannya belum dibikin)
Waduh Torezero, gaya tulisan kamu drastis berubah gini. Btw… bisa jadi arete itu emang merupakan “cetak-biru-kehidupan” tapi dalam bentuk potensi--yang bisa berubah karena lingkunan dan pola asuh (nurture). Seperti yang Torezero tulis, karena pola asuh lingkungan kita, potensi yang sebenernya bisa menjadi kelebihan kita justru tidak berkembang. “Kecerdasan potensi” atau arete berubah menjadi “kecerdasan performa”. Tapi tetep ajah saya masih nggak bisa ngerti. Kalo arete itu emang “cetak-biru-kehidupan”, terus kalo seorang seniman itu emang ditakdirkan harus jadi seniman gitu, matematikus ditakdirkan sebelumnya sebagai matematikus… Tapi bisa aja sih kalo misalnya kecerdasan logis seorang matematikus itu mengalir bersama gen orangtuanya, kemudian menjadi potensi yang menunggu diaktualkan. Aktual atau nggak itu tergantung pada pola asuh, lingkungan dan kemandirian orang itu untuk memilih jadi autentik: dari “kita-manusia” (dasman) menjadi “manusia” (dasein).]
OK lah kalo begitu, taro aja kita emang memiliki sebuah arete. Maka ketika kita melakukan aktivitas atau pekerjaan sesuai dengan arete yang kita miliki, maka itu adalah kondisi dikaosyne. Tapi sayangnya, seperti yang telah disinggung oleh Torezero, kita selalu telah dikondisikan oleh lingkungan kita sehingga tidak semua dari kita dapat mengetahui apa arete yang dimilikinya. Lalu?
Seniorku itu menyarankan kami, saya dan teman-teman di unit literasi Salman itu, untuk mengingat sebuah sophia perennis (oops buat yang sensi sama istilah ini, afwan yah aku nggak bermaksud nyinggung kalian); sebuah kebijakan universal yang melintasi perbedaan kultur, ras, agama… “Kenalilah dirimu sendiri”, “Gnothi se authon” kata orang Yunani, “Man `arafa nafsahu…” Kenalilah diri kita, maka salah satu capaiannya adalah kita menemukan apa arete kita.
Pernah denger cerita Albert Einstein? Dulu waktu dia masih kecil dia itu sangat lemah dalam berbagai mata pelajaran kecuali matematika, dan fisika. Bahkan karena kelemahannya itu, dia sampai diprediksikan oleh guru-guru yang sempet mengajarnya sebagai orang yang nggak akan jadi apa-apa. Tapi Einstein tau apa arete-nya, dia memilih jadi seorang fisikawan. Dan akhirnya semua kata-kata gurunya itu nggak terbukti. Karena Einstein kini menjadi fisikawan yang cukup memengaruhi dunia sains. Seniorku itu berkata,”Ketika seseorang menjalani peran yang sesuai dengan minat dan bakatnya, maka dengan energi minimalnya ia bisa kerja keras siang malam namun tetap senang dan bergairah.”
Dulu seniorku itu kuliah di FSRD ITB. Dia bercerita, suatu kali ketika dia mengumpulkan tugas berupa paper, dosennya berkomentar: sebenernya kamu itu lebih berbakat di bidang literasi daripada seni. Dia bercerita bagaimana ketika dia kuliah dulu sebenernya seperti ada sesuatu yang hilang sehingga dia tidak bisa menikmati apa yang dia pelajari. Apa yang dikatakan oleh dosennya itu menjadi kenyataan, seniorku itu kini menjadi seorang editor di sebuah penerbit yang cukup dikenal di kota Bandung.
Kayaknya enak banget ya kalo kita udah bisa nemuin apa arete kita. Tapi seperti yang aku katain tadi, kita sering tertekan oleh kondisi lingkungan hingga kita susah nemuin apa arete kita. “Jangan ambil jurusan itu! Ntar kamu mau jadi apa?” itu kira-kira tekanan yang selalu datang ketika kita tertekan karena kebingungan milih major kuliah. Kadang lingkungan kita selalu menginginkan kita menjadi orang-orang yang hidup sukses, punya mobil bagus, gaji 8 digit, rumah mewah. Tapi kita jarang diberi kesempatan untuk menjadi orang yang sukses hidup bahagia menjadi diri kita sendiri. Padahal kekayaan itu bukan segalanya karena dengan kekayaan kita tidak dapat membeli kebahagiaan.
Waktu diskusi itu, seniorkubercerita ihwal temannya yang “nekad” ngambil jurusan filsafat karena dia emang suka dengan filsafat. Walaupun banyak stereotipe berkoar disekitarnya: “Emang kamu entar mau jadi apa? Emang ada tempat kerja yang bakalan nerima lulusan filsafat?”, tapi dia tetap milih major itu. Dan semua stereotipe itu nggak ada satu pun yang terbukti, kini teman senirku itu malah dapat bekerja dengan energi minimalnya. Dia sekarang menjadi seorang dosen, ngisi seminar, dan jadi penulis buku. Bahkan dia nggak nyari pekerjaan tapi pekerjaan yang nyari dia, karena masih jarang orang-orang yang memiliki kapasitas intelektual seperti dia. Walaupun kita bukan Einstein, Kang Al ato temen seniorku itu, tapi setidaknya dari apa yang terjadi sama orang-orang itu bisa menginspirasi kita mengenali diri kita dan menemukan arete yang dianugrahkan buat kita.
Selamat mengarungi perjalanan kehidupan. Voyage!() Isyroqi

1 comments: