Hari ini bukan ulang tahun saya. Bukan tahun baru manapun, juga bukan awal atau akhir bulan Ramadhan. Tapi entah kenapa, di ruang kerja dengan segala hiruk pikuk khas percetakan, agen otak divisi kontemplasi tiba-tiba melancarkan serangan ke jantung pertahanan kesadaran saya. Selidik punya selidik, ternyata semua berawal dari impuls yang ditransmisikan setalah indra penglihatan saya membaca sebuah prosa dari seorang teman saya. Prosa yang dia publikasikan lewat jejaring sosial. Jejaring sosial yang saya akses sembunyi-sembunyi di tempat kerja saya ini. Di beberapa kalimatnya tersirat pesan khusus hingga departemen perhubungan hati saya berstatus siaga satu.
Pesan sederhana tentang indahnya memperjuangkan kebenaran. Tentu saja bukan epik Kotaro Minami—Satria Baja Hitam membela kenenaran membasmi kejahatan yang saya maksud. Pernah dengar kisah epic para aktivis da’wah? Indahnya ukhuwah yang menyimpul diantara mereka? Dan romantisme-romantisme lain yang terkadang eksklusif, hanya mereka yang benar-benar mafhum. Ya kira-kira hal-hal seperti itu lah pesan sederhana yang saya maksud.
Di kesempatan lain, ngga sengaja saya menemukan sebuah dummy bulletin yang mungkin akan diperbanyak di percetakan ini. Saya baca-baca isinya. Buletin ini dibuat para aktivis mahasiswa yang mencoba menyampaikan pesan perubahan untuk negeri ini. Atau setidaknya kasta intelektual lain di lingkungan mereka. Tanpa pernah bertemu sebelumnya dengan pembuat bulletin ini, saya bisa merasakan gelora semangat mereka menyuarakan kebenaran versi mereka—yang lebih Nasionalis. Teman baik , sampai sekarang juga masih aktif dengan berbagai agenda memperjuangkan kebenaran di kelompoknya. Kelompok dengan gerakan merakyat katanya.
Masih ditempat yang sama, dengan segala hiruk pikuknya. Semua orang disini ngga sadar klo diam-diam saya bermain dengan kaleidioskop memori saya. Memutar-mutar beberapa rangkaian warna yang di beberapa bagian berkilau indah sedang di bagian lain tampak kusam. Meter usia saya saat ini masih menunjukan status pemuda. Klo Bang Rhoma bilang, ‘masa muda, masa yang berapi-api’. Sama seperti teman saya yang menulis prosa berona da’wah, seperti para mahasiswa nasionalis pembuat bulletin, seperti teman saya yang berjuang atas nama rakyat. Sama seperti ribuan,bahkan jutaan pemuda lain yang dengan semangat memperjuangkan kebenaran—versi mereka sendiri. Saking semangatnya, ngga jarang ada gesekan-gesekan antar kelompok.
Kesadaran saya kembali jatuh di atas kursi sender, di depan set desktop, di tengah ruang kerja. Saya melihat kesekeliling. Hanya ada deretan desktop, printer, mesin copy, berbagai jenis kertas, serakan dokumen, beberapa orang yang sibuk memberi servis pada konsumen. Ruangan yang cukup artistic, namun kusam. Kenapa saya yang bersosok pemuda berakhir di tempat seperti ini?
Saya pernah merasakan dinamikanya memperjuangkan kebenaran. Merasakan romantismenya dengan sahabat-sahabat seperjuangan. Di area da’wah islam saja saya pernah merasakan berbagai kelompok harakah, dari mulai HT, tarbiyah bahkan cap sesat seperti N11. Saya juga pernah merasakan bagaimana semangat pergerakan yang dibawa kaum intelektual saat saya masih kuliah. Bahkan saya pernah singgah di area utopis dengan para anarkis. Wlopun semua ngga saya benar-benar mendalaminya, saya pernah merasakan semangat itu. Dinamika memperjuangkan cita-cita perubahan. Menjadi Agent of Change.
Lalu di titik mana saat ini saya berada?
Di sebuah tempat kerja dengan jam kerja sangat padat dan upah sangat kecil. Di sosok pemimpi melankolis. Di dalam ke-aku-an yang terlampau lelah menyusuri dinamika perjuangan hingga akhirnya tersesat di lorong hasrat. Individu yang sepenuhnya ingin merasakan kebebasan, namun sejatinya teralienasi dalam usahanya memperjuangkan kebebasannya itu. Saya yang sudah terlalu skeptis dengan berbagai pergerakan pemuda. Mereka yang seolah-olah hanya berjuang melaksanakan berbagai program mereka tanpa meter keberhasilan yang jelas. Berjuang hanya untuk romantisme perjuangan belaka. Saat masih aktif mereka begitu bersemangat, tapi waktu akhirnya membawa mereka terseret arus hidup dan kenyataan hingga mereka akhirnya hanya terjebak menjadi seorang oportunis. Saat ditanya, ‘Memang sampai mana sih arah keberhasilan gerakan kalian? Sampai saat ini, apa kalian sudah merasa berhasil memperjuangkan kebenaran kalian?’ Saya hafal jawaban mereka, ‘Setidaknya kita sudah berusaha.’
Saya yang saat ini hanya berjuang untuk diri saya sendiri. Memperjuangkan mimpi saya. Menghadapi masalah yang ada di depan mata saya. Saya cukup nyaman dengan keadaan dan pencapaian yang saya dapat saat ini. Wlopun saya tidak tau akan dimana ini berakhir. Biarkan waktu yang menjawab, selalu kalimat ini yang menemani saya. Terdengar klise? Memang. Hanya saya dan Tuhan yang ngerti makna kalimat ini. Bagi saya kebenaran adalah rasa puas konsumen atas servis saya. Servis saya yang menjadi salah satu solusi untuk keberhasilan mereka menjalankan program mereka.
Sekian.

0 comments:
Posting Komentar