300x250 AD TOP

Footer

Para Kamerad

Rabu, 08 Desember 2010

Tagged under: ,

Kalender 2011 : Januari - Februari

okey, tahun 2011 segera menyingsing. saya berfikir, "apa yang bisa saya berikan untuk menyambutnya?"
dan membuat sebuah kalender tiba-tiba muncul di permukaan benak saya. ya. seperti tahun lalu, saya buat kalender yang bisa diunduh teman-teman. jika tahun lalu saya hanya membuat versi pdf-nya, sekarag biar lebih gampang saya kasih jpeg-nya saja. rangkaian kalender 2011 ini saya terbitkan per dua bulan. jadi harap sabar dalam menanti.

tema bulan januari dan februari adalah across the universe. digambarkan dengan sepasang balerina yang melompat di ruang semesta. bahwa waktu adalah teman kita, namun setiap saat bisa saja menelikung. kaleidioskoplah metafora yang tepat sebagai pengingat akan waktu. juga sebagai simbol penemuan. maka mungkin inilah saat yang tepat buat kita untuk beresolusi. apakah diakhir tahun ini, pecahan kaca terang atau gelap yang terankai di kaleidioskop hidup kita.

namun begitu, tidak ada element yang menyimbolkan valentine yang identik dengan bulan februari. open yer mind-lah, jangan seperti keledai yang gampang termakan isu. saya rasa kekerdilan diri ketika melihat agungnya alam semesta sudah cukup bagi jantung kita untuk dipenuhi rasa cinta Yang Maha Cinta.

kamu bisa unduh gambar ukuran besarnya di flickr saya
arthmed

Minggu, 24 Oktober 2010

Tagged under:

acoustic jam session

ignorance (acoustic)
you treat me just like another stranger
well it’s nice to meet you sir
i guess i’ll go
i best be on my way out
ignorance is your new best friend









vindicated acoustic
And I am flawed
But I am cleaning up so well
I am seeing in me now the things you swore you saw yourself

Vindicated,
i'm selfish
i'm wrong
i'm right
i'm swear i'm right
swear i knew it all along











love song
However far away, I will always love you
However long I stay, I will always love you
Whatever words I say, I will always love you
I will always love you













sunday morning (acoustic)

But things just get so crazy living life gets hard to do
Sunday morning rain is falling and I’m calling out to you
Singing someday it’ll bring me back to you
Find a way to bring myself back home to you

Kamis, 07 Oktober 2010

Tagged under:

Surat Buat Papah

Pah, tadi siang ada seorang bapak dan anak perempuannya yang ngamen ke kantor Ndra. Seketika Ndra jadi kangen sama Papah. Kata Mamah, sekarang Papah megang 2 proyek langsung. Sehat kan di Bogor Pah? Banyak hal Pah yang pengen Ndra certain. Beberapa hal mungkin bakal ngebuat Papah bangga, ngga sedikit yang yang buat Papah kecewa. Tapi Ndra yakin kejujuran bakal jauh lebih baik.

Pah, selama ini, di seperlima abad Ndra hidup, Ndra begitu kenyang dilimpahi kebanggaan Papah. Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, Papah terus ngasih yang terbaik buat Ndra. Bayangkan, seorang pekerja kasar terus berjuang tanpa lelah sampai bisa mendudukan anaknya di bangku kuliah salah satu PTN bergengsi. Titel yang susah didapat kebanyakan pemuda di kampung kita. Bahkan teman Papah sekaliber Om Noviar atau Pak Suryaman aja ngerasa iri sama Papah. Tapi Pah, bukan rasa bangga yang kemudian tergores di canvas benak Ndra. Hanya rasa sesal dan bersalah yang sesungguhnya melingkupi.

Awalnya Ndra juga bangga. Saat temen-temen seangkatan Ndra banyak yang tak berkesempatan merasakan bnagku kuliah, apalagi di PTN, Ndra jadi salah seorang yang beruntung. Bahkan Ndra sempet dapet Beasiswa dengan jerih payah Ndra sendiri. Tapi waktu emang sebuah misteri pah. Perlahan Ia mengenalkan Ndra pada ke-aku-an Ndra sejatinya. Dimana dunia Ndra seharusnya berada. Ndara semakin merasa asing dengan berbagai deret angka, kajian analitik, logika dan kalimat-kalimat ilmiah, sementara imaji, kreativitas visual, bentuk dan tata ruang, serta kombinasi warna semakin merongrong di otak kanan Ndra. Terlepas dari segala permasalahan Ndra di kampus, masalah terbesar tak lain hadir di diri Ndra sendiri.

Ndra adalah seorang perfeksionis yang penuh ketakutan dan mudah terbeban. Ndra rapuh dengan tekanan ekspektasi Papah dan ketidakmampuan Ndra. Berkali-kali Ndra nyoba bangkit, namun berkali-kali pula Ndra terantuk.

Pah, Ndra ngga bisa terus begini. Ndra harus nyari jalan lain, hingga akhirnya Ndra mutusin berhenti kuliah dan nyari kerja. Ya, Alhamdulillah sekarang Ndra udah dapet kerjaan yang sesuai dengan passion Ndra. Ndra kerja di digital printing, jadi operator setting dan grafis. Banyak temen-temen yang mikir klo Ndra gila. Mungkin Ndra hanya seorang pengecut yang tak cukup berusaha di bangku kuliah eksakta. Ndra terlalu egois dengan menyia-nyiakan kesempatan yang justru jutaan pemuda lain menginginkannya. Terlebih Ndra udah 6 smester kuliah. Tapi Ndra tentu, jauh lebih faham keadaan Ndra sendiri.

Alhamdulillah Pah, Ndra betah sekali di tempat kerja Ndra sekarang. Meski awalnya Ndra juga ragu jika mental Ndra belum tentu siap untuk dinamika kerja. Hanya pembuktian yang Ndra berusaha kasih buat Papah. Bahwa Ndra bisa survive di dunia kerja—wlopun gajinya kecil— dengan passion yang Ndra punya. Ndra tau dan sangat sadar jika Ndra nyoba ganti seluruh pengorbanan Papah buat ngejeblosin Ndra ke bangku kuliah, maka Ndra ngga akan pernah bisa membayarnya.

Cuma satu mimpi Ndra buat Papah yang ngga pernah berubah. Suatu saat, rumah yang Papah bangun adalah rumah kita sendiri, dengan design bikinan Ndra—wlopun Ndra bukan arsitek ato designer interior, hehe. Disana bakal lebih banyak ruang dan waktu buat kita berbagi. Dimensi yang jarang kita dapat selama belasan tahun ini. Ndra bangga banget jadi anak seorang lelaki seperti Papah. Papah adalah pahlawan yang nyata buat Ndra.

Miss you so much Pah.

Seperti biasa, malam ini, setelah lelah bekerja Papah habiskan waktu di kesendirian. Tidak ada Mamahmu yang memijat atau sekedar menyediakan kopi hangat. Tidak ada riuh tengkar kedua adikmu. Hanya sunyi malam dan bias suara televisi berbicara sendiri. Terkadang sepi ini sedikit terobati ketika di jaringan telepon, Mamahmu menyampaikan jika semua anaknya sudah pulang ke rumah dan mengerjakan PR-PRnya.

Papah tidak pernah menuntut terlalu banyak pada kalian. Kau mungkin selalu mendengar cerita, bagaimana sulit dan perihnya hidup yang Papah dan Mamahmu harus lalui. Papah hanya mencoba memberikan hidup yang Papah sendiri tak pernah dapatkan. Namun mungkin justru disinilah bibit kasih dan sayang tumbuh. Menjadi akar rasa sayangmu, adik-adimu. Di titik ini, sedapat mungkin Papah akan berikan yang terbaik untuk kalian.

Sebagaimana Ndra, Papah juga anak sulung. Papah mengerti benar beban yang harus ditanggung seorang anak sulung dari sebuah keluarga seperti kita. Terkadang Papah melihat tangis, bahkan dalam senyummu saat kau mengatakan semua baik-baik saja. Walau akhirnya Papah tak pernah bisa berbuat banyak, Papah terus mencoba percaya pada Ndra.

Ndra. Ndra adalah anak Papah, Papah mengerti dan tau benar bakat dan Potensi Ndra. Papah bahkan masih ingat gambar Bugs Bunny dan Satria Baja Hitam yang Ndra gambar sewaktu TK. Papah tidak akan pernah mengekang potensimu, bahkan Papah akan terus mendukung.

Kerasnya hidup memang telah membuat Papah jadi seorang yang naif. Namun tak pernah ada niatan Papah menuntut balas darimu. Papah hanya ingin agar kau tidak merasakan hidup yang harus Papah jalani. Jika bukan karna masa depan anak-anak Papah, Papah tidak akan pernah kuat mengarungi arus hidup ini. Kalianlah alasan mengapa Papah masih bertahan.

Ndra, jalanmu masih panjang. Akan banyak yang kau pelajari dari waktu. Dunia dengan sendirinya akan menempa kedewasaanmu, hingga akhirnya kau siap menanggung beban yang lebih besar. Keluargamu sendiri. Maka ingatlah selalu, dimanapun kamu berjuang untuk hidupmu, jangan pernah lupa akar kasih sayang yang telah Papah dan Mamahmu pupuk. Berikan yang terbaik untuk orang-orang yang kau sayangi.

Tagged under:

skeptisisme

Hari ini bukan ulang tahun saya. Bukan tahun baru manapun, juga bukan awal atau akhir bulan Ramadhan. Tapi entah kenapa, di ruang kerja dengan segala hiruk pikuk khas percetakan, agen otak divisi kontemplasi tiba-tiba melancarkan serangan ke jantung pertahanan kesadaran saya. Selidik punya selidik, ternyata semua berawal dari impuls yang ditransmisikan setalah indra penglihatan saya membaca sebuah prosa dari seorang teman saya. Prosa yang dia publikasikan lewat jejaring sosial. Jejaring sosial yang saya akses sembunyi-sembunyi di tempat kerja saya ini. Di beberapa kalimatnya tersirat pesan khusus hingga departemen perhubungan hati saya berstatus siaga satu.

Pesan sederhana tentang indahnya memperjuangkan kebenaran. Tentu saja bukan epik Kotaro Minami—Satria Baja Hitam membela kenenaran membasmi kejahatan yang saya maksud. Pernah dengar kisah epic para aktivis da’wah? Indahnya ukhuwah yang menyimpul diantara mereka? Dan romantisme-romantisme lain yang terkadang eksklusif, hanya mereka yang benar-benar mafhum. Ya kira-kira hal-hal seperti itu lah pesan sederhana yang saya maksud.

Di kesempatan lain, ngga sengaja saya menemukan sebuah dummy bulletin yang mungkin akan diperbanyak di percetakan ini. Saya baca-baca isinya. Buletin ini dibuat para aktivis mahasiswa yang mencoba menyampaikan pesan perubahan untuk negeri ini. Atau setidaknya kasta intelektual lain di lingkungan mereka. Tanpa pernah bertemu sebelumnya dengan pembuat bulletin ini, saya bisa merasakan gelora semangat mereka menyuarakan kebenaran versi mereka—yang lebih Nasionalis. Teman baik , sampai sekarang juga masih aktif dengan berbagai agenda memperjuangkan kebenaran di kelompoknya. Kelompok dengan gerakan merakyat katanya.

Masih ditempat yang sama, dengan segala hiruk pikuknya. Semua orang disini ngga sadar klo diam-diam saya bermain dengan kaleidioskop memori saya. Memutar-mutar beberapa rangkaian warna yang di beberapa bagian berkilau indah sedang di bagian lain tampak kusam. Meter usia saya saat ini masih menunjukan status pemuda. Klo Bang Rhoma bilang, ‘masa muda, masa yang berapi-api’. Sama seperti teman saya yang menulis prosa berona da’wah, seperti para mahasiswa nasionalis pembuat bulletin, seperti teman saya yang berjuang atas nama rakyat. Sama seperti ribuan,bahkan jutaan pemuda lain yang dengan semangat memperjuangkan kebenaran—versi mereka sendiri. Saking semangatnya, ngga jarang ada gesekan-gesekan antar kelompok.

Kesadaran saya kembali jatuh di atas kursi sender, di depan set desktop, di tengah ruang kerja. Saya melihat kesekeliling. Hanya ada deretan desktop, printer, mesin copy, berbagai jenis kertas, serakan dokumen, beberapa orang yang sibuk memberi servis pada konsumen. Ruangan yang cukup artistic, namun kusam. Kenapa saya yang bersosok pemuda berakhir di tempat seperti ini?

Saya pernah merasakan dinamikanya memperjuangkan kebenaran. Merasakan romantismenya dengan sahabat-sahabat seperjuangan. Di area da’wah islam saja saya pernah merasakan berbagai kelompok harakah, dari mulai HT, tarbiyah bahkan cap sesat seperti N11. Saya juga pernah merasakan bagaimana semangat pergerakan yang dibawa kaum intelektual saat saya masih kuliah. Bahkan saya pernah singgah di area utopis dengan para anarkis. Wlopun semua ngga saya benar-benar mendalaminya, saya pernah merasakan semangat itu. Dinamika memperjuangkan cita-cita perubahan. Menjadi Agent of Change.

Lalu di titik mana saat ini saya berada?

Di sebuah tempat kerja dengan jam kerja sangat padat dan upah sangat kecil. Di sosok pemimpi melankolis. Di dalam ke-aku-an yang terlampau lelah menyusuri dinamika perjuangan hingga akhirnya tersesat di lorong hasrat. Individu yang sepenuhnya ingin merasakan kebebasan, namun sejatinya teralienasi dalam usahanya memperjuangkan kebebasannya itu. Saya yang sudah terlalu skeptis dengan berbagai pergerakan pemuda. Mereka yang seolah-olah hanya berjuang melaksanakan berbagai program mereka tanpa meter keberhasilan yang jelas. Berjuang hanya untuk romantisme perjuangan belaka. Saat masih aktif mereka begitu bersemangat, tapi waktu akhirnya membawa mereka terseret arus hidup dan kenyataan hingga mereka akhirnya hanya terjebak menjadi seorang oportunis. Saat ditanya, ‘Memang sampai mana sih arah keberhasilan gerakan kalian? Sampai saat ini, apa kalian sudah merasa berhasil memperjuangkan kebenaran kalian?’ Saya hafal jawaban mereka, ‘Setidaknya kita sudah berusaha.’

Saya yang saat ini hanya berjuang untuk diri saya sendiri. Memperjuangkan mimpi saya. Menghadapi masalah yang ada di depan mata saya. Saya cukup nyaman dengan keadaan dan pencapaian yang saya dapat saat ini. Wlopun saya tidak tau akan dimana ini berakhir. Biarkan waktu yang menjawab, selalu kalimat ini yang menemani saya. Terdengar klise? Memang. Hanya saya dan Tuhan yang ngerti makna kalimat ini. Bagi saya kebenaran adalah rasa puas konsumen atas servis saya. Servis saya yang menjadi salah satu solusi untuk keberhasilan mereka menjalankan program mereka.

Sekian.

Tagged under: ,

Arete

Wah gak tau kenapa nih jam biologisku lagi kacau. Tadi siang aku ngantuk banget, jadi aku lemes mau ngelakuin apapun. Sekarang aku gak bisa tidur. Hm…
Oh iya. Temenku, Torezero, di edisi 1 (volume 2) maze microzine nulis tentang energi minimal. Aku jadi inget beberapa tahun yang lalu waktu aku masih suka kumpul-kumpul di Salman. Mari kita membuka lembaran-lembaran ingatanku yang mengendap di mundus imaginalis-ku. Mari:
Waktu itu aku lagi dalam masa pengenalan unit literasi yang aku ikuti di Salman ITB. Ada beberapa rangkaian acara yang harus aku ikuti. Salah satunya adalah ikutan sharing bareng senior unit tersebut tentang menulis sebagai energi minimal. Kang Al, begitu kami memanggilnya, memulai diskusi itu dengan kisah tentang Socrates si “Lalat-penyengat” kota Athena. Filsuf yang—pada akhirnya--membuat aku penasaran hingga aku relain nyari-nyari artikel tentang dia di internet dan memebeli sebuah buku di Tobucil. Konon Socrates memiliki sebuah teori yang disebut sebagai dikaiosyne. “Dikaiosyne adalah keadaan ketika manusia bertindak adil (dike) dengan menempuh suatu jalan hidup dan pekerjaan yang tepat untuk dirinya, serta tidak mencampuradukkannya dengan jalan hidup dan pekerjaan orang lain” (oops… hapal bagget kata-per-kata ya? Ya jelas lah. Aku nyontek ke artikel tulisan dia! Hehe) begitu versi dikaiosyne yang difahami oleh seniorku itu. Menurut seniorku ini, setiap manusia itu memiliki sebuah arete yang berbeda-beda. “Arete adalah suatu keunggulan yang dimiliki setiap manusia dalam hidupnya.” Dia memberi contoh: “misalnya, arete alat pangkas adalah untuk memotong dahan-dahan pohon—karena dia melakukan hal itu lebih baik dari alat lainnya.” Jadi kayak alat pemotong itu, setiap manusia punya sebuah “cetak-biru-kehidupan” yang disebut arete. “Fungsi” manusia apa ya? Kayak perkakas aja!
Hm… sebenernya aku nggak begitu setuju sih sama teori cetak-biru-kehidupan ini, soalnya jadi kayak predestined banget. Tapi dari apa yang seniorku itu uraikan, nampaknya dia lagi pengen ngebantah teori tabularasa yang jadi salah satu zeitgeist manusia modern: setiap orang itu seperti selembar kertas kertas kosong yang siap untuk ditulisi apa aja. Jadi manusia itu kayak yang pasif dibentuk sama lingkungannya. Yah , kok malah jadi sama-sama mengarah ke predestinasi sih (takdir manusia itu tabularasa)? Yang jelas setau aku: saat kita lahir kita tidak mengetahui apa-apa ato kalaupun tau juga masih terbatas. Itu artinya secara epistemologis kita seperti selembar kertas kosong tabularasa. Dan selama perjalanan hidup kita, pengetahuan kita bertambah dan akal kita berkembang (makanya ada istilah aqil baligh). Terus kalo secara ontologis, kita—dalam beberapa hal—seperti yang dipredestinasikan. Misalnya kita gak pernah milih untuk jadi manusia kan? Kita juga punya keterbatasan yang bersifat fisikal. Misalnya mata. Mata cuman bisa kita gunain untuk melihat sejauh apa yang bisa kita lihat. Kita gak bisa ngelihat jasad renik atau benda-benda mikroskopis hanya dengan mengandalkan mata telanjang kita. Sama halnya ketika kita nggak mampu melihat planet Nibiru tanpa bantuan teleskop. Itu artinya kita punya berbagai keterbatasan yang sering kita sebut sebagi qadar. Manusia memiliki berbagai keterbatasan (qadar) tapi manusia juga ditakdirkan (qadar) memiliki kehendak bebas. Sehingga dalam keterbatasannya itu di bisa melakukan berbagai pilihan yang terbaik buat dia. Btw, kita lanjutin.
“Bila seseorang menjalankan fungsi yang dirancang untuknya, dengan sempurna, maka ia dipandang memiliki arete.” Begitu kata Kang Al. Arete, arete… ada yang ngartiinnya sebagai virtue. Tapi dari hasil penelususranku di internet, aku lebih memilih arti kata arete sebagai “being the best you can be”; arete itu adalah “the highest potential that we can reach”. Tapi kayaknya ukuran “the highest” di sini juga relatif baget: tiap orang itu berbeda-beda, jadi arete-nya juga beda-beda karena setiap orang itu unik. [Nah tinggal kita perjelas aja maksud arete sebagai cetak-biru-kehidupan itu seperti apa. OK. Di maze edisi 1 temanku, Torezero, menulis:
“Sebuah temuan menunjukkan bahwa di dalam otak kita tersimpan semacam cetak biru yang telah terbentuk sejak usia 21 minggu dalam kandungan…. Ditemukan bahwa ada semacam proporsi pola wadah sesuai delapan komponen kecerdasan. Logika matematika, logika bahasa, spasial-visual, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal dan naturalistik. Masing-masing individu memiliki pola yang khas sesuai dirinya.”
“Proporsi pola wadah ini bersifat menetap, meski perkembangan saraf-saraf di otak terus bertambah. Inilah kecerdasan potensi. Namun, dalam perjalanan hidupnya, belum tentu kecerdasan potensial ini kemudian berkembang menjadi performa sebagaimana pola yang naturnya. Bisa jadi, dalam keseharian, komponen kecerdasan potensi yang menjadi kelebihan justru tidak berkembang karena pengaruh lingkungan (nurture) dan sebaliknya, komponen yang secara natur inferior justru berkembang. Kecerdasan yang terbentuk oleh nurture ini adalah Kecerdasan Performa. Walau kemudian kedua kecerdasan ini bermanfaat bagi eksistensi ‘kita-manusia’, saya berpendapat bahwa kecerdasan potensi akan menjadikan ‘kita-manusia’ lebih ‘manusia’.” (maze edisi 1 versi PDF, halamannya belum dibikin)
Waduh Torezero, gaya tulisan kamu drastis berubah gini. Btw… bisa jadi arete itu emang merupakan “cetak-biru-kehidupan” tapi dalam bentuk potensi--yang bisa berubah karena lingkunan dan pola asuh (nurture). Seperti yang Torezero tulis, karena pola asuh lingkungan kita, potensi yang sebenernya bisa menjadi kelebihan kita justru tidak berkembang. “Kecerdasan potensi” atau arete berubah menjadi “kecerdasan performa”. Tapi tetep ajah saya masih nggak bisa ngerti. Kalo arete itu emang “cetak-biru-kehidupan”, terus kalo seorang seniman itu emang ditakdirkan harus jadi seniman gitu, matematikus ditakdirkan sebelumnya sebagai matematikus… Tapi bisa aja sih kalo misalnya kecerdasan logis seorang matematikus itu mengalir bersama gen orangtuanya, kemudian menjadi potensi yang menunggu diaktualkan. Aktual atau nggak itu tergantung pada pola asuh, lingkungan dan kemandirian orang itu untuk memilih jadi autentik: dari “kita-manusia” (dasman) menjadi “manusia” (dasein).]
OK lah kalo begitu, taro aja kita emang memiliki sebuah arete. Maka ketika kita melakukan aktivitas atau pekerjaan sesuai dengan arete yang kita miliki, maka itu adalah kondisi dikaosyne. Tapi sayangnya, seperti yang telah disinggung oleh Torezero, kita selalu telah dikondisikan oleh lingkungan kita sehingga tidak semua dari kita dapat mengetahui apa arete yang dimilikinya. Lalu?
Seniorku itu menyarankan kami, saya dan teman-teman di unit literasi Salman itu, untuk mengingat sebuah sophia perennis (oops buat yang sensi sama istilah ini, afwan yah aku nggak bermaksud nyinggung kalian); sebuah kebijakan universal yang melintasi perbedaan kultur, ras, agama… “Kenalilah dirimu sendiri”, “Gnothi se authon” kata orang Yunani, “Man `arafa nafsahu…” Kenalilah diri kita, maka salah satu capaiannya adalah kita menemukan apa arete kita.
Pernah denger cerita Albert Einstein? Dulu waktu dia masih kecil dia itu sangat lemah dalam berbagai mata pelajaran kecuali matematika, dan fisika. Bahkan karena kelemahannya itu, dia sampai diprediksikan oleh guru-guru yang sempet mengajarnya sebagai orang yang nggak akan jadi apa-apa. Tapi Einstein tau apa arete-nya, dia memilih jadi seorang fisikawan. Dan akhirnya semua kata-kata gurunya itu nggak terbukti. Karena Einstein kini menjadi fisikawan yang cukup memengaruhi dunia sains. Seniorku itu berkata,”Ketika seseorang menjalani peran yang sesuai dengan minat dan bakatnya, maka dengan energi minimalnya ia bisa kerja keras siang malam namun tetap senang dan bergairah.”
Dulu seniorku itu kuliah di FSRD ITB. Dia bercerita, suatu kali ketika dia mengumpulkan tugas berupa paper, dosennya berkomentar: sebenernya kamu itu lebih berbakat di bidang literasi daripada seni. Dia bercerita bagaimana ketika dia kuliah dulu sebenernya seperti ada sesuatu yang hilang sehingga dia tidak bisa menikmati apa yang dia pelajari. Apa yang dikatakan oleh dosennya itu menjadi kenyataan, seniorku itu kini menjadi seorang editor di sebuah penerbit yang cukup dikenal di kota Bandung.
Kayaknya enak banget ya kalo kita udah bisa nemuin apa arete kita. Tapi seperti yang aku katain tadi, kita sering tertekan oleh kondisi lingkungan hingga kita susah nemuin apa arete kita. “Jangan ambil jurusan itu! Ntar kamu mau jadi apa?” itu kira-kira tekanan yang selalu datang ketika kita tertekan karena kebingungan milih major kuliah. Kadang lingkungan kita selalu menginginkan kita menjadi orang-orang yang hidup sukses, punya mobil bagus, gaji 8 digit, rumah mewah. Tapi kita jarang diberi kesempatan untuk menjadi orang yang sukses hidup bahagia menjadi diri kita sendiri. Padahal kekayaan itu bukan segalanya karena dengan kekayaan kita tidak dapat membeli kebahagiaan.
Waktu diskusi itu, seniorkubercerita ihwal temannya yang “nekad” ngambil jurusan filsafat karena dia emang suka dengan filsafat. Walaupun banyak stereotipe berkoar disekitarnya: “Emang kamu entar mau jadi apa? Emang ada tempat kerja yang bakalan nerima lulusan filsafat?”, tapi dia tetap milih major itu. Dan semua stereotipe itu nggak ada satu pun yang terbukti, kini teman senirku itu malah dapat bekerja dengan energi minimalnya. Dia sekarang menjadi seorang dosen, ngisi seminar, dan jadi penulis buku. Bahkan dia nggak nyari pekerjaan tapi pekerjaan yang nyari dia, karena masih jarang orang-orang yang memiliki kapasitas intelektual seperti dia. Walaupun kita bukan Einstein, Kang Al ato temen seniorku itu, tapi setidaknya dari apa yang terjadi sama orang-orang itu bisa menginspirasi kita mengenali diri kita dan menemukan arete yang dianugrahkan buat kita.
Selamat mengarungi perjalanan kehidupan. Voyage!() Isyroqi

Selasa, 28 September 2010

Tagged under: ,

Esensi Seni


Saya baru saja selesai membaca sebuah ebook berjudul panduan dasar desain grafis. Saya tidak akan membahas isi buku ini karena ya, buku ini memang hanya berisi panduan awal dalam mengenal dunia desain grafis. Hal menarik dari ebook ini adalah bagaimana Vinsensus mengajak kita yang mungkin sudah lama gemar –dan cukup mahir—membuat grafis, ilustrasi, vector, layout, flash, desain web, retouching foto dan sebagainya untuk kembali berpijak pada pondasi kokoh, yaitu peran seni sebagai ruh karya kita.
Ebook ini menjelaskan setidaknya ada 5 prinsip dasar dari seni. Kesederhanaan, kesatuan, keseimbangan, penekanan dan repetisi (pengulangan). Sedangkan seni itu sendiri harus bersifat indah dan teratur. Tapi toh, ternyata banyak juga orang-orang yang sebelumnya tidak pernah belajar teori semacam ini, tapi mereka tetap bisa mengkonversi idenya menjadi sebuah karya yang bisa diapresiasi. Hal yang menyadarkan saya bahwa memang potensi seni sejak awal telah tertanam di setiap benak manusia. Bahwa manusia memang punya suatu kebutuhan akan seni itu sendiri. Dan secara naluriah, manusia akan berusaha mencari dan memenuhi kebutuhan ini.
Bagaimana kota bandung, sejak ditetapkan kilometer nol oleh Dandels hingga kini telah menjelma menjadi sebuah kota—dengan tata letak dan ruangnya menjadi sebuah keteraturan yang indah (terlepas dari segala permasalahan lingkungannya). Bagaimana Barcelona memainkan sepakbola menyerang dengan kombinasi passing-passing pendek dan skill individu setiap pemain hingga tercipta gol yang memanjakan mata penonton, itu adalah seni. Bahkan, bagaimana seorang pedagang martabak berusaha meramu terigu, gula dan bahan-bahan lain menjadi sebuah adonan yang legit dan ketika dia berhasil membuat lidah konsumennya menari, dengan bangga dia berujar, “ini pekerjaan seni bung..”. Seni tidak dapat dipisahkan dalam hidup manusia.
Antara sebuah situs dengan tampilan standar, button kotak dan menu berjajar rapi tapi kaku, atau situs lain dengan berbagai visual dan animasinya, mana yang kamu pilih? Antara buku science dengan paragraf-paragraf penuh tanpa white space atau majalah dengan berbagai ilustrasi dan tipografi menarik, mana yang kamu pilih? Kecuali kamu kutubuku psycho, saya rasa kebanyakan dari kamu lebih milih opsi-opsi kedua. Alasannya sederhana, karna seni lebih ‘nyentuh’ ke hati. Jadi, di bidang apapun kamu berkarya, seni bisa jadi mediasi buat menarik hati audience. Sesederhana itu.
Sekarang kita bicara di ranah professional. Misalnya kamu pekerja seni, entah kamu seorang pelukis, penulis, sastrawan, musisi, illustrator, desainer grafis, entrepreneur, arsitek atau bahkan atlit. Kamu cukup mengerti peran visualisasi karya kamu buat menarik hati pasar, tapi apakah kamu cukup mengerti posisi seni dalam karya kamu? Contoh paling gampang sih gini, misalnya industri distro yang sempat jadi prodigy tapi saya rasa sekarang mengalami stagnasi. Klo dulu kaos-kaos sangat kaku, industri distro hadir dengan gaya urban art yang seketika meledak populer. Seni visual hadir bak penyelamat dahaga dinamika kreativitas para pemuda. Kamu pasti kenal label-label macam 347, Ouval, Airplane, Black ID dan ribuan label lain yang belakangan menjalar bak jamur, justru dapat menjatuhkan pasar import macam adidas, nike, quicksilver atau volcom. Setidaknya di Bandung.
Tapi saya bilang industri ini stagnan karna ya—secara pribadi sih, saya pikir jika ada orang-orang yang memakai kaos dengan brand-brand distro ternama rasanya biasa-biasa saja. Kaos-kaos printed art bisa ditemukan dan didapat dengan mudah. Ngga harus merogoh kocek terlalu dalam atau capek-capek menyempatkan datang ke venue distro ternama jika kaos dengan tampilan menarik bisa kita dapat di emperan pinggir jalan. Ya terlepas dari masalah branding yang masih punya pengaruh, tapi saya belum punya kualifikasi buat membahas isu ini.
Terfikir kemudian di benak saya. Apakah memang kreatifitas itu ada batasnya? Klo stagnasi memang pasti ada. Bahkan seberpengalaman apapun pekerja seni, doi pasti pernah mengalami stagnasi atau kejenuhan. Masa dimana inspirasi tiba-tiba tenggelam, sulit dirangkul. Tapi saya yakin mereka selalu punya trik-trik buat mengantisipasinya. Seperti pertanyaan di dua paragraf sebelumnya, mungkin pelaku industri distro—terutama di kelas oportunis, hanya mengandalkan visualisasi yang menarik tanpa mempertimbangkan peran seni sebagai ruh dari karya mereka.
Dalam majalah Concept, Djoko hartanto menganalogikan isu ini seperti bongkahan es dan puncak gunung es di lautan. Jika dilihat dari kejauhan, puncak gunung es yang kokoh berdiri di dasar lautan terlihat sama saja dengan bongkahan es yang sekedar mengapung. Nahkoda kapal Titanic juga agaknya punya sudut pandang seperti ini. Tapi jika bongkahan es dengan mudah bisa hancur jika ditabrak, puncak gunung es yang kokoh justru mampu menenggelamkan kapal ini.
Tanpa memiihak siapapun, para oportunis (label-lebel distro abal-abal) hanya mengandalkan visualisasi yang menarik tanpa substansi seni dalam karyanya. Jika terus begitu, karya mereka akan berakhir seperti bongkahan es yang hancur saat ditabrak kapal bernama persaingan pasar. Terlepas dari selera konsumen kita yang pasaran dan latah, saya kira karya dengan substansi seni yang sejati pada saatnya akan mengambil tempat di hati konsumen. Mereka akan berjodoh dengan konsumen yang cukup dewasa dalam mengapresiasi sebuah ‘karya seni’ bukan sekedar ‘karya pasar’. Laiknya puncak gunung es yang ditopang badan gunung sebagai esensi seninya.
Walaupun ebook sederhana ini hanya menyentuh dasar pengembangan desain grafis, tapi menurut saya buku ini cocok buat kamu menggali identitas ruh seni kamu sendiri dalam menghasilkan masterpiece yang bisa diterima para apresiator. Sekali lagi, seni itu masalah hati, saya yakin jika memang jodoh, karya kamu bisa dihargai setinggi langit oleh orang-orang yang bisa merasakan ruh, semangat serta pesan yang ingin kamu sampaikan dalam karya kamu.

sedoot, ebooknya disini
*sebenernya saya udah post di beberapa post sebelumnya

Sabtu, 25 September 2010

Tagged under:

Perahu Kertas

perahu kertas
Neptunus,
Walaupun saya bukan agen anda, izinkan saya melaporkan kisah 2 orang agen anda yang bernama Kugy dan Keenan dalam Perahu Kertas.
Semoga di tengah laut keingintahuan manusia, akhirnya ada yang menemukan kisah ini dan mencomot sirat pesan yang saya gurat di dalamnya. Enjoy it..



Saya bingung, sejak pertama mata saya merangkul novel tebal berilustrasi perahu dan 2 orang anak diatasnya ini, entah kenapa buku ini seolah bergravitasi, mengeksploitasi segala hasrat saya. Saya coba dekati dan rangkul buku ini, tapi dengan angkuhnya, buku ini menepis sentuhan saya dengan plastik yang melapisi seluruh kulitnya. Huuuff, saya lirik pinggulnya mulusnya. Wow harganya mahal!

Butuh setahun lebih buat saya dapat ebooknya*. Saya bukan penikmat baca, apalagi jika harus baca di LCD, capek rasanya. Tapi lagi-lagi, novel ini memberi arus deras yang menyeret fikiran saya terus terhanyut dalam rangkaian alurnya.

Dewi Lestari (Dee) memang labih soft mengolah Perahu Kertas. Setidaknya jika dibanding gaya ilmiah dan filosofis Trilogi Supernova atau permainan plot dan sudut pandang Rectoverso. Perahu kertas tampil lebih sederhana, namun menggigit dan mencerahkan. Lewat novel ini, agaknya Dee mempunyai misi da’wah buat semua manusia. Makna hidup yang sederhana, namun sering terlupakan. Passion.

Adalah Kugy dan Keenan, dua tokoh utama novel ini dengan karakter yang kuat. Mereka berdua punya mimpi. Kugy ingin menjadi penulis dongeng, sedang Keenan jadi pelukis. Kisah cinta memang selalu—dan agaknya harus selalu ada di setiap novel. Mungkin sebagai ulas warna pada corak canvas waktu kehidupan. Dan warna cinta di novel ini tak lain berokulasi antara Kugy dan Keenan. Kadang, ulasnya terasa begitu menyala, haru, gemas, lucu hingga perut terasa dikocok, tapi tak jarang terasa begitu mellow. Kombinasinya membuat goresan cinta kisah ini terasa begitu dekat. Mungkin mengharukan, tapi ngga cengeng. Saya yakin kamu pernah merasakan apa yang namanya chemistry saat bertemu dengan orang yang kamu sayangi, perasaan aneh ketika berada dekat dengannya, rasa sesal saat doi ngejauhin kamu, atau kecewa saat doi telah memiliki tambatan hati lain. Tergurat juga kisah persahabatan abadi Kugy, Keenan, Eko dan Noni, tentunya dengan berbagai konflik yang mewarnai. Bagaimana antara cinta dan persahabatan beresonansi dan melengkapi.

Memang seperti itulah kisah cinta yang selalu dibawakan—bahkan sejak zaman pujangga lama. Setidaknya, dalam novel ini kisah cinta mereka terasa dekat, karena mereka bermain di area diri mereka sendiri. Ngga perlu jadi orang lain yang selalu harus tampil sempurna agar dicintai. Jujur pada diri sendiri adalah kuncinya. Hingga akhirnya novel ini bakal mengajarkanmu bahwa waktu telah punya jawabannya sendiri.

Kita jalan-jalan sebentar ke area energi minimal. Dua pemimpi seperti Kugy dan Keenan sebenarnya sah-sah saja dimiliki manusia, tapi reallitas mungkin hanya tertawa mendengar cita-cita mereka. Mana ada profesi penulis dongeng yang bikin hidup benefit? Mana bisa ngandelin kepul dapur Cuma dari lukisan?
Isu energi minimal inilah yang coba diangkat Dee dalam Perahu Kertas. Bagaimana Kugy tetap percaya bahwa suatu saat dia akan menjadi pendongeng, menjadi dirinya sendiri. Serta bagaimana Keenan—walaupun cita-citanya kehitung lebih masuk akal, tapi keluarganya begitu menentangnya menjadi pelukis. Perjalanan mereka mengejar mimpinya, membuat lembar demi lembar tergambar bagai sorot proyektor sampai kita lupa bahwa ini hanyalah buku, rangkaian kata.

Ngga sedikit orang yang cukup beruntung dalam usaha mereka menyatakan mimpinya, tapi ngga sedikit juga diantara mereka yang harus menyerah dengan keadaan dan lingkungan yang mengikat mereka. Misalnya seorang yang punya passion di bidang fotografi, tapi karna tuntutan masa depan yang terikat materi, akhirnya doi malah kuliah di Keteknikan yang imejnya lebih ‘menjanjikan’ dibanding fotografi. Ngga salah sih, di planet realitas—seperti yang Kugy bilang di novel ini—memang aturannya seperti ini. Selalu materi yang berbicara lebih lantang.

Senyum mengembang di wajah Keenan. Hangat. “Gy, jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat, kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.”

Ya, inilah yang coba sisampaikan Dee. Menjadi diri sendiri. Hidup rasanya terlalu singkat jika kita hanya terpaku, menjadi mesin hasrat pemenuh kebutuhan perut kita. Ada hal lain yang jauh lebih berharga untuk diperjuangkan. Passion kita. Hal yang membuat kita nyaman dan nikmat dalam mengerjakannya. Hal yang saat kita kerjakan—selelah apapun, kita akan selalu menikmatinya, dan mengeluarkan potensi terbaik kita.

kamu bisa download versi ebooknya
di sini

tapi pliss, menurut saya, novel ini sangat layak koq klo kamu beli versi cetaknya..
apresiasi karya anak bangsa lah..

Kamis, 16 September 2010

Tagged under:

Janji Joni

Dok, minal aidzin wal faidzin yaa.. maaf buat semua salah yang gue pernah bikin sama lo. Udah lama gua ngga ngobrol sama lo. Bentar, gua ke warung depan dulu, beli super ma kuaci buat temen ngobrol kita.

Gini Dok, seminggu ini kira-kia udah 4 kali gua nonton film Janji Joni. Emang ajiip ni film. Terakhir gue nonton khan dulu sama lo pas taun baruan (ntah taun baru kapan), nonton gratisan di SCTV. Waktu itu umur kita masih SMP, jadi ngga terlalu ngerti ni film nyeritain apaan. Berawal dari Laptop temen gue yang dititipin ke gue, maka nonton lah gue ni film Janji Joni. Trus gue kopiin ke desktop gue (maaf ya teh, ngga minta ijin ngopiin, hehe), trus gue kopiin lagi ke temen gue yang lain, nontonlah gue sama doi, trus berlanjut, gue kopiin lagi ke temen yang lain-lain, nontonlah lagi gue sama doi yang lain. Huwaa bingung khan lo!
The point is, gue ngerasa ni film terbaik yang pernah dibuat industri film Indonesia. Ceritanya emang sederhana Dok, tapi pesan-pesan minor di sela-sela perjalanan si Joni yang menurut gue bagus banget buat vitamin hidup kita. Biar lo juga lebih ngerti gimana cerdas dan ekselennya film ni, gue review lagi deh beberapa potong dialog dari film ini.
Ngga jadi ah, kebanyakan, ntar malah jadi spoiler dong. Karna ternyata banyak juga temen-temen gue yang belon pernah nonton ni film, klo pun udah, pasti udah pada lupa lagi. Soalnya ni khan film lama. Jadi gue kasih point-point pentingnya aja dari apa yang mau disampein Joko Anwar, directornya.
Ceritanya si Joni lagi di toilet mau pipis. Ternyata di situ udah ada Tora Sudiro dan Winky Wiryawan lagi debat Dok. Debat soal film yang baru mereka tonton. Kayaknya sih yang baru mereka tonton film drama romantic, soalnya yang kemudian mereka debatin adalah, “Dalam masalah cinta, apakah kita mesti nyari seorang belahan jiwa kita yang bener-bener cocok ato kita Cuma tinggal pilih random pasangan kita trus kita usahain agar relationship kita berhasil?”
Buat gue ni pertanyaan sangat sangat menggelitik. Emang Cuma dua point itu sih yang sering gue temuin di kasus-kasus relationship temen-temen gue. Jadi, gue balik nanya ke lo Dok, lo khan masih jomblo, nah menurut lo, pasangan yang pas buat lo yang mana? Apakah yang mesti cocok banget sama lo, ada chemistry, love at the first sight dan lo percaya bahwa di dunia ini lo diciptain udah sepaket sama pasangan lo, Cuma masalah waktu sampe akhirnya lo nemuin pasangan abadi lo ini. Rasanya lo ngga bisa hidup klo ngga sama pasangan lo. Klo lo masuk kategori ini, maka lo termasuk penganut picisan Romeo and Juliet.
Pilihan kedua, lo ngebangun relationship sendiri. Chemistry bisa datang belakangan, lo ngga selalu mentingin gereget hati. Yang penting, lo ngebangun cinta lo sampe dengan sendirinya cinta tumbuh mengakar dan menjulang. Ato sederhananya, lo ngga kejebak cinta buta Dok. Istilah gampangnya, not a blind love. Nah, klo lo ngerasa masuk sama kategori ini, gue yakin lo penganut Fahri dan Aisyah di Ayat-ayat cinta. So, pilih yang mana Dok? The Choice is yours.
Lo, koq jadi kebanyakan ngobrolin masalah cinta gini kita. Yasud lah, sekarang gue mau share point penting yang lain yang ada di film ini, yaitu gimana caranya lo nikmatin kerjaan Dok. Gue koq ngerasa sekarang orang-orang kerja tuh cumin buat Menuhin tuntutan perut doing ya. Klo ngga kerja, gimana dapur bisa ngebul? Lo sering kan denger stereotip kayak gitu.
Nah, di film ini, wlopun doi cumin kerja sebagai pengantar rol film bioskop, tapi doi nikmatin banget kerjaannya. Klo udah nikmat kita ngerjain sesuatu, maka yang kita kejar bukan melulu masalah uang Dok, tapi kebanggaan, prestise, dedikasi dan etos kerja yang tinggi. ‘Udah setaun ue nganterin rol film, belum pernah gue telat’, kata Joni.
Trus darimana rasa nikmatin kerjaan bisa dateng Dok? Menurut gue (dan udah sering gue bilang sama lo), lo mesti kerja sama passion lo Dok. Klo kerja sama passion, pekerjaan apapun itu, lo bakal nikmatin soalnya lo kerja sama energi minimal lo. Hasrat kuat yang bakal nopang semangat lo.
Adam Subandi (Soedjiwo Tedjo) seorang seniman nyentrik sempet nanya sama Joni. “Memangnya bisa kerjaan nganterin rol film ngasilin duit?” ya emang bener sih, kenyataan sekarang, duit ngga bisa lepas dari hidup kita, seideologis apapun lo. Kebanyakan orang nyari kerja, buat nyari duit. Alas, Joni beda Dok! Doi nyari kerja buat hasrat doi Menuhin passionnya. Dan sekecil ato seremeh apapun pekerjaan lo nantinya, lo bakal bangga Dok. Lo cari tahu deh passion Joni apaan di film ini.
Film ni film cerdas, cocokah buat semua umur, terutama buat remaja nanggung kayak lo yang ceritanya lagi nyari jati diri.
Ah.. ya.. gue lupa inti pesen yang gue dapet dari 90 menit gue nonton film ni. Hargai proses Dok. Klo sekedar mentingin hasil, Cuma capek yang lo dapet Dok. Hargai proses maka lo bakal dapet nilai tambah dari berbagai hikmah yang lo dapet. Ni Dok, gue kasih dah link donlotnya CD 1 & CD 2, barangkali lo bisa nemu lebih banyak pesen dari ni film.

Lo juga bisa donlot Original Soundtracknya, kebanyakan yang ngisi musisi-musisi indie macem The Adams, White Shoes and The Couple Company, Zeke and The Popo, banyak deh.. keren lah
Tagged under: ,

Sedetik Dalam Bis

Ingin sekali lo ada disini Dok. Menemani gue di dalam bis ini. Di dinginny kota ini.
Dalam derak laju bis yang menggilas aspal basah gerimis, dua lampu kecil meremangkan punggung-punggung lelah para penumpang. Dan di jok kaku belakang ini, cuma tersisa setengah batang rokok dan King of Convenience yang nemenin gue.
Lo cukup diem dan berbagi rokok sama gue. Tidak usah ad tembok diksi yang membelit. Cukup silang asap yang mengepul buat kita saling menyelami.
Biarkan lampu rumah-rumah atau toko-toko sekilas memanjakan mata kita. Barangkali dalam klisenya kita bisa mafhum dengan kehampaan ini.
Ah, sedetik penggalan waktu ini rela Dok, gua tuker sama setahun umur gua.
Tagged under:
Ingin sekali lo ada disini Dok. Menemani gue di dalam bis ini. Di dinginny kota ini.
Dalam derak laju bis yang menggilas aspal basah gerimis, dua lampu kecil meremangkan punggung-punggung lelah para penumpang. Dan di jok kaku belakang ini, cuma tersisa setengah batang rokok dan King of Convenience yang nemenin gue.
Lo cukup diem dan berbagi rokok sama gue. Tidak usah ad tembok diksi yang membelit. Cukup silang asap yang mengepul buat kita saling menyelami.
Biarkan lampu rumah-rumah atau toko-toko sekilas memanjakan mata kita. Barangkali dalam klisenya kita bisa mafhum dengan kehampaan ini.
Ah, sedetik penggalan waktu ini rela Dok, gua tuker sama setahun umur gua.

Sabtu, 26 Juni 2010

Tagged under:

etnic food 2010


Udah lama gw ngga cerita sama lo dok. Udah ga usah ditahan-tahan, bilang aja lo kangen sama wajah rupawan gua. Lo ngga usah kesepian lagi Dok, karna sekarang gua akan selalu ada untukmu. Hooeekk!!!!
Lo liat facebook gw donk. Banyak foto-foto gua ma temen-temen foodlicious di Ciwalk. Iya Dok, klo biasanya gua ma lo ke Ciwalk buat nguras mata, liat paha-paha cewek hotpanters, wajah-wajah mojang bandung (klo lo khan yang diliat cowok-cowok lutchuuw..), 2 kemaren kemaren gw ikutan lomba di etnic food 2010. Ni Festifal katanya sih se-Jabar, ada talkshow, stand-stand kuliner, trus ada lombanya juga. Lomba inovasi produk, bisnis plan sama design kemasan. Ya, lo tau sendiri dok gua cuman bisa ngegambar design. Makanya dari dulu-dulu gw diajak ma temen-temen yang laen buat bantuin tim kemasan. Gua certain aja ya kronologi kenapa gw sampe ada di Ciwalk.
Sebenernya Dok, gua udah lama dikontak ma si Syafwan (Ntar-ntar gw kenalin lo deh) buat ikutan lomba ini. Tapi ya, gara-gara lo juga sih, gua jadi jarang ke kampus. Gua baru dateng sekitar seminggu sebelum deadline lombanya. Anggota tim yang lain udah pada mulai ngegambar design-design kemasan gitu. Ya sederhana sih, di kertas karton trus jaring-jaringnya digambar pake pensil. Tiba-tiba gw dateng gitu sambil ngebawa conto2 design kemasan. Yah dari situ, rencana berubah, ampir semua design gw yang ngerjain. Bukannya gw sombong ato arogan, tapi ya lo tw sendiri lah gw orangnya perfeksionis. Wlopun gw jadi ngga enak sih sama temen tim yang laen, yang jadi gag jelas kerjanya.
Parah ni gw! Kenapa gw susah kerja dalam tim ya? Kayaknya kreatifitas ngga keluar, ya jadinya 3 design kemasan yang gw buat pertama ya.. kurang maksimal Dok. Cekidot:


Kesan pertama waktu gw liat 3 design pertama ini, ‘wah ngga rapih!’ Gw ngga ikut pas ngeprintnya. Lagian Dok si Syafwan ni bilang klo sekarang pesertanya makin banyak! Dari STISI sampe Profesional ikutan. Makanya gw langsung jiper. Untunglah 2 Kemasan lagi masih belon diprint, gw permak lagi designnya biar lebih dinamis. Pikiran gw diperes ampe kering. Gw ngga mandi 2 hari biar inspirasi bisa keluar (ngga diem aja di badan gw yang bau), sambil dengerin terus lagu-lagunya Darso, hasilnya kayak gini


Sama 2 kemasan ini, seenggaknya gw sedikit punya bekel Pede lah Dok.
Akhirnya Jumat pagi tanggal 25 Juni 2010, dengan menggenggam bara harapan kemenangan (Heu, lebay lo Dok!) kita berangkat ke Ciwalk bareng Tim Inovasi ma Tim Bisnis juga. Banyak yang ngga terduga lah Dok, dari stand yang sempit banget, design yang telat dateng, dan yang paling parah, ternyata kita Cuma boleh ngelombain satu design doing Dok! Gila khan? Nguap aja kreatifitas gw sama 4 design laennya, terutama kemasan yang ijo dok, sayang banget kan!
Akhirnya gw milih kemasan yang DP jadi unggulan. Mulailah Juri-juri ngenilai. Mereka merhatiin leket-leket design gw. Ada bagus ato ada kurangnya. Yang tim bisnis ma inovasi juga dinilai. Dan akhirnya.. and the winner goes to.. peserta no. 29!!!!!!!!!!!!!
Yeeaahh.. yeeaahh..
Tapi itu bukan nomer gw Dok! Huhu, tim gw cuman dapet juara 2!
Dan hebatnya, tim bisnis dapet juara 1.


Wlopun tim inovasi ngga dapet, tapi gua yakin kita ngerasain kebanggaan bersama. Karna kita khan satu keluarga Dok. Ngiri-ngiri deh lo! Lo sih temennan sama banci semua. Haha. Joke brader.
Yah, sebenernya klopun ngga dapet, gw sih nothing to lose aja Dok. Gw udah nikmatin prosesnya. Udah lama banget gw ngga ngerasain momen kayak gini. Sekarang khan lagi musim world cup. Gw liat video klip flying flag-nya k’nnaan. Ngeliat euforia dan prestise para pemaen bola dan merayakan kemenangan. Pengen banget kayaknya gw ada di sebuah podium, diteriakin bangga sama temen-temen deket. Klopun akhirnya kalah, tapi kita udah berusaha, berpeluh-peluh ngejar tujuan dari impian kita. Klo kita kerja dengan hati dan passion, rasa lelah yang gimana pun bakal nguap. Makasih temen-temen foodlicious udah support banget.
Bilang makasih juga lo Dok!